Saya, mengeluarkan kartu nama saya. Ada tertera nama, dan jabatan saya di kartu itu; Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2008. Dan setiap hari, saya membagi-bagikan kartu nama itu kepada semua orang yang saya temui. Orang-orang berwajah sayu, muka-muka bergurat pucat, mimik-mimik putus asa. Ah, saya menjadi pahlawan mereka, dari pada putus asa, mari kita berpartisipasi dalam acara paling akbar di penghujung tahun 2008 ini, bunuh diri massal 2008!Dan ternyata sambutannya luar biasa, handphone saya yang nomornya tertera di kartu nama saya itu, hampir setiap saat berbunyi, menanyakan apakah masih ada tempat untuk mereka yang ingin berpartisipasi, oh tentu saja, saya akan menggelar event akbar ini di Lapangan Monas. Tentu saja ribuan orang boleh berpartisipasi, tidak ada istilah kehabisan seat, setiap orang berhak untuk memutuskan hidupnya mau diakhiri sekarang atau nanti, menyerah pada takdir atau memutuskannya sendiri, hidup adalah memilih bukan?
Maka, suatu pagi yang kelam dan sendu, dengan rintik gerimis hujan yang jatuh berebutan, saya mendapatkan ide dahsyat itu. Kegiatan akbar bunuh diri massal 2008 ini harus bisa masuk Museum Rekor Indonesia, semua orang harus melihat kegiatan akbar ini sebagai sejarah, sejarah bahwa kehidupan membawa keputusasaan. Ya, keputusasaan adalah panglima komando tertinggi dalam acara ini. Maka, agar dilirik MURI, saya bermimpi ribuan, bahkan jutaan orang terlibat dan memeriahkan acara akbar ini. Akhirnya saya mengangkat telepon, memesan ribuan spanduk dan merancang iklan televisi serta iklan cetak. Berapapun biayanya, akan saya bayar setelah kegiatan selesai dilaksanakan.
Jadi, kalau kamu laki-laki, dan hatimu hancur berkeping tanpa sisa. Kenapa kamu nggak ikut acara saya ini? Bunuh Diri Massal 2008. Tak ada uang pendaftaran untuk berpartisipasi, syaratnya hanya satu untuk ambil bagian dalam acara ini, kamu haruslah LAKI-LAKI dengan hati yang tak ada lagi!
*
Sekarang, saya akan beri kamu waktu untuk berpikir, mau ikut acara ini atau tidak. Nanti, saya lanjutkan lagi. Berpikirlah, dari sekarang. Karena hidup adalah menentukan pilihan...
Perhatikan sekali lagi kartu nama saya; Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2008. Artinya, saya akan didepan, memimpin acara itu dilaksanakan. Gimana, ikut?





