Bunuh Diri Massal 2008

...suicide is rocks!

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
E-mail Print PDF
Suatu kali, penyakit lama saya yang harus selalu membaca kapan saja itu, membuat saya meraih potongan surat kabar yang tergeletak di lantai sebuah warung makan. Saya mencari judul yang berkesan, dan mata saya menangkap tulisan ini; The Happening dan M Night Shyamalan. 

Tulisan dalam koran lecek itu mengungkap resep Mr Shyamalan dalam membuat cerita-cerita dalam filmnya, begini kutipannya;

"Saya selalu menarik hal paling menakutkan dari setiap benda yang ada disekitar kita." begitu katanya saat menemukan Lady in The Water dan The Happening.
 
Maka, apa yang paling menakutkan saya sejak kecil?

Saya selalu takut ditabrak Sedako, sejenis angkutan kota kecil yang banyak di kota Medan, Bandung dan Jakarta.

Saya selalu takut tidur dan bangun di tengah kuburan. Atau ditempat yang tidak saya kenal dan tak tahu jalan pulang.

Saya selalu takut duduk dibelakang karena saya tak bisa memastikan apa yang ada di depan. 

Saya selalu takut keluar rumah sebelum memastikan keadaan baik-baik saja, makanya saya berusaha selalu membaca koran atau membuka detik.com dulu sebelum melangkahkan kaki. Tapi yang paling saya ingat adalah, ketika pada suatu pagi, saya hendak naik ke atas rumah pohon dibelakang rumah saya, dan melihat sepotong tangan tergeletak begitu saja. Sebuah tangan berdarah-darah yang kemudian saya ikuti, dan saya menemukan potongan-potongan badan lainnya. Kaki saya memaku, bisu. Sebelum akhirnya ibu saya keluar rumah, memeluk saya. Itu kakek tetangga sebelah, mati bunuh diri. Menantang maut dengan menggilaskan tubuhnya di kereta api.

Sejak itu, saya berpikir, ketakutan apa yang hinggap di benak seseorang, sehingga ketakutan akan maut tak lagi berarti?

Maka ini yang saya dapatkan;
Saya takut, saya hidup tanpa diijinkan untuk menemani hidup seseorang yang sangat saya cintai. Saya takut, saya ditinggalkan oleh orang yang saya kasihi. 

Maka, saya tak pernah mengantarkan siapa pun yang hendak pergi, jika mengantar, saya akan 'say goodbye' begitu saja, tak sampai si orang yang saya antarkan itu menghilang ke dalam gerbong kereta, bus atau hingga pesawatnya lepas landas, dan sebelum itu terjadi, saya sudah balik badan pergi. Pada seri buku terakhir Detektif Legendaris Sherlock Holmes, Kembalinya Sherlock Holmes yang ditulis Sir Arthur Conan Doyle, saya sempat berhenti sangat lama saat buku itu hampir habis saya baca, hanya karena saya tak sanggup berpisah dengan penyewa apartemen 221 B Bakerstreet itu. Syukurlah Sherlock akan hidup kembali dalam film yang disutradarai Guy Ritchie.

Maka, ketakutan terbesar itulah yang melahirkan Bunuh Diri Massal. Hanya karena saya terkapar tiga hari terakhir di sofa kantor sejak malam minggu lalu karena demam. Sofa itu, selalu menjadi tempat saya mengkaparkan diri. Karena dengan terkapar di sofa itu, saya bisa membunuh bosan karena badan tak mampu berjalan, dengan menulis, menonton dvd, membaca berita, dan menulis lagi. Maklum, kantor online internet 24 jam dengan speedy. Jadi begitulah, saya menuliskan Bunuh Diri Massal, dari demam dan ketakutan terbesar dalam hidup saya.


Ketakutan yang memancing ketakutan banyak orang;

Ini mau launching buku atau film baru ya?
Lumayan kreatif...tapi please pertimbangkan sisi etika ya...

Sebab bunuh diri massal itu bukan mainan, sebab di Jepang itu pernah
trend...
Pernah nonton film 'Suicide Club'?
That's real thing guys.....so please ,kalau ini memang hanya bertujuan
untuk promosi atau iklan....please masih banyak jurus yang lebih positif.

Meskipun dengan kita membahas ini berarti kita juga sudah membantu
iklannya.... entahlah. ..please stop!!!


Dan berikut ini;

Astaghfirulloh, maaf yach bukan untuk membatasi hak seseorang, tapi tolong donk yang kayak pendaftaran seperti itu di stop saja. toch ini bukan untuk sarana jadi ajang perbuatan dosa massal khan. okelah kalau memang itu adalah hak seseorang sebagai "manusia". namun apakah benar kalau hak hidup itu adalah hak seseorang sebagai manusia? kapan bikin rohnya? emangnya orangtua tidak ada hak atas hidup anaknya untuk tetap hidup? emang anak juga tidak ada hak atas hidup bapak/ibunya?  sejak kapan seseorang hidup dengan sendirinya? so udah dech jangan berpikir dan berbuat yang egoistik. toch hidup bukan untuk diri sendiri khan? hidup untuk menjadi lebih baik. toch kalau memang ada masalah, masih ada hari esok untuk menyelesaikannya. tidak ada kok manusia yang maunya ada masalah terus. hidup itu untuk dinikmati bukan dijadikan beban. hidup adalah untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh-Nya bukan dengan merusaknya dengan bunuh diri. buat apa ada akal
kalau tidak untuk berpikir. akal khan untuk membedakan mana yang baik dan benar. mana yang harus ditempuh mana yang tidak harus ditempuh.
Orang bunuh diri itu ibarat orang yang sudah putus tali ekornya. orang yang sudah putus rasa "malu"nya. orang yang tidak mau berpikir tentang yang menciptakan dirinya. IQRO bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. teliti dan lakukan dengan seksama apa yang harus dilakukan. tidak dengan Bunuh Diri Massal karena perbuatan tersebut adalah sia-sia saja seperti orang yang sudah putus atas rahmat-Nya. 



Dan yang ketiga:

Milis ini mulai banyak muncul kata  bunuh diri. Zaman dahulu sejak nenek moyang kita bertahan hidup. Bertahan hidup dari berbabagi becanda alam bahkan dari takdirnya. Indonesia dikenal dengan semangat juangnya. Pantang menyerah dan tidak berputus asa. Bak kata Asa Muchlias; Ada Singa di dalam dirimu.
 


Dalam agama apa pun dilarang berputus asa. Bunuh diri haram hukumnya. Bahkan berpikir mengenai bunuh diri saja sudah dicatat  malaikat Atid sebagai niat yang buruk.  Jika menderita sakit parah dan divonis usia tidak kan lama hidup. Coba lihat di jalan raya Jakarta.  Diantara hiduk pikuk kendaraan mereka yang terkena penyakit kusta menengadahkan tangannya meminta sedekah. Banyak penderita penyakit yang pantang menyerah berjuang bertahan hidup. Dan semangat hidup serta doa dan usahanya bisa memperpanjang hidup.
 


Tahun 80-an ketika saya mendalami bidang sosiologi. Muncul rasa bangga sebagai bangsa Indonesia. Bahwa tingkat bunuh diri di Indonesia terbilang rendah disbanding negara Eropa dan Jepang misalnya. Di Eropa banyak upaya bunuh diri akibat penyakit kecanduan naza (alkohol, obat terlarang). Bahkan minggu lalu saya mendengar seorang ayah di Athena berusia 50-an bunuh diri akibat tidak bisa menerima kenyataan kena penyakit Sirosis. Sirosis adalah rusaknya hati (liver)  akibat banyak minum alkohol.  
 

Mau bunuh diri gara-gara menganggur?
Bangsa kita bangsa yang paling kreatif.  Hanya di Indonesia yang bisa ditemukan banyak penjual makanan keliling. Ada mie tek-tek, empek-empek , sate Padang, otak-otak, gorengan, bakso dll. Semua dijual di gerobak dorong. Bahkan penjual roti unyil di depan SD pikulannya cukup ringan. Penjual gulali, ager-ager dll. 
Jika saya boleh berpendapat, lapangan pekerjaan di Indonesia sangat banyak. Asal bisa berprinsip start from zero. 
 

Sebaiknya istighfar, eling kata orang Jawa. Mending ambil bola dan tending sekuat tenaga di lapangan. Ambil kail dan pergi ke sungai atau laut memancing. Ambil kamera dan jepret foto. Terkadang hasil foto bisa dijual ribuan dolar. Jika tidak punya alat apa pun. Bisa baca buku ke perpustakaan. Pergi ke surau atau tempat ibadah. Konsultasi gratis masalah psikologis Anda di tempat ibadah dengan imam di masjid atau pemimpin agama. Saya senang sekali jika menyanyikan lagu untuk mereka yang berulang tahun. Panjang umurnya dan bahagia. Bahagia di dunia dan akhirat. 
 
 


Serta pertanyaan berikut:

 

kodokt3rbang wrote today at 6:09 AM

emang acaranya beneran ya??

Terus kenapa cuma cowok yang boleh ikut??


Kenapa ya?

Kenapa cuma cowok yang boleh ikut? 

Yah, karena sejak dulu, cowoklah yang selalu berkorban untuk orang-orang yang dikasihinya. Adam rela berkorban meninggalkan surga demi Hawa. Ketika dibuang ke dunia dan terpisah jarak dan waktu, Adam pula yang mencari Hawa. Bayangkan jika Adam tak mencari cintanya itu. Di mana kita sekarang? Dan itulah ketakutan terakhir saya, jika dunia ini tak ada, di mana kita akan berada?

Dan karena saya sudah ada di dunia. Dan dunia ada untuk saya. Maka saya harus berbuat untuk dunia dan menikmati setiap detik kehidupan saya. Seperti kata Alanda Kariza, si anak kecil yang kecerdasannya akan membunuh saya nantinya;

oh dear. i love my life and i won't trade it with anything else :D 

Jadi, ketakutan terbesar apa yang saya hadapi, hingga saya menentukan bahwa tanggal 22 September adalah hari pelaksanaan Bunuh Diri Massal itu? Saya akan memberitahumu, tapi kemudian saya harus membunuhmu, karena hanya saya yang boleh tahu.

Dan, jangan lupa kalimat mujarab dari The Beatles ini; 

reality leaves a lot to the imagination.

Tapi sekarang saya harus menghadapi ketakutan paling dekat dulu; naik pesawat, karena harus terbang pagi-pagi..
Last Updated ( Thursday, 18 September 2008 08:07 )