Bunuh Diri Massal 2008

...suicide is rocks!

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
E-mail Print PDF

Menjelang 22 September, saya meluangkan waktu berlibur ke Bangkok. Susi saya tinggal di Jakarta. Seraya berharap mendapatkan Similikitty-Similikitty yang lain. 

Toh, tak ada lagi yang bisa saya lakukan, semua sudah selesai dikerjakan. 999 orang peserta sudah terdaftar, sudah pula diumumkan di Koran nasional, situs-situs berita. Sekarang biarkan media yang bekerja, memanfaatkan momen luar biasa kegiatan ini, untuk menjadikannya sumber nafkah mereka sesaat. Beberapa stasiun televisi bahkan menayangkan episode profil para peserta. Hampir setiap hari, satu peserta diundang ke studio, untuk menceritakan alasan-alasan dibalik keikutsertaan mereka dalam kegiatan akbar ini.

Oiya, ke Bangkok ini bukan sekedar jalan-jalan. Ini perjalanan khusus untuk studi banding. Kenapa Bangkok? Karena kota inilah yang dijadikan sasaran awal bom bunuh diri, sebelum akhirnya, sasaran dipindahkan menjadi Kuta Bali.

Jalanan itu, jalanan yang dulu menjadi sasaran bom bunuh diri itu, bernama Khaosan Road. Kawasan yang luar biasa ramai. Bertambah malam, jalanan itu semakin penuh dengan bule. Duduk di pinggir jalan, menggenggam botol-botol minuman. Thai girls berdiri dengan tubuh molek luar biasa. Thai Girl-Thai Girl itu mungkin salah satu keindahan dunia yang akan segera kutinggalkan, setelah 22 September nanti.

Sampai akhirnya, sebuah tangan menyentuh pundak saya.

Saya menoleh. Seorang laki-laki tersenyum pada saya. Dari jarak satu lengan di belakang saya.

“Anda,” kata laki-laki itu, diantara kebisingan luar biasa ditengah jalanan itu. “Anda ketua panitia Bunuh Diri Massal itu kan?”

Saya tersenyum padanya.

Saya tak menyangka seterkenal ini. Hahaha…

Laki-laki itu menyodorkan tangannya, saya kemudian menyambut uluran tangannya.

“Come-come,” katanya, “Ikut saya.” Lanjutnya lagi.

“Anda Indonesia?” Tanya saya seraya melangkah dibelakangnya.

“Ya, saya Indonesia, atau apa saja, hahaha!”

Nada tertawa yang aneh.

Akhirnya kami duduk di salah satu sudut kawasan itu. Silk Café. Seorang pelayannya, cewek thai yang cantik menghampiri kami. Satu pitcher Singha Beer kemudian tersaji di hadapan saya.

“Saya tahu kegiatan itu dari internet,” kata laki-laki itu kemudian, usai menuangkan hampir seluruh isi Singha Beer pada dua gelas dihadapan kami.

“Oh ya?”

“Saya sempet termenung ketika membaca iklan itu.”

“Yaaahhh,” kata saya panjang.

“Dan setelah saya pikir-pikir,” kata laki-laki itu. “Saya harus ikut menjadi salah satu pesertanya.”

“Oh!” seru saya. “kuota 999 peserta sudah terpenuhi.” Jawab saya kemudian, “Maaf.”

Laki-laki itu terdiam mendengar jawaban saya.

Matanya menerawang ke langit-langit Bangkok yang biru kelam.

“Apa yang Anda lakukan disini?” Tanya saya kemudian.

“Saya?” tanyanya.

“Ya, apa yang Anda lakukan di negeri orang ini?”

“Saya kabur dari rumah.” Jawabnya cepat, “Kabur dari Indonesia!”

“Ahhh…” seru saya.

“Anda koruptor?”

“Bukan.”

“Anda penjahat buruan polisi?”

“Tidak juga.”
“Lalu, Anda kabur dari apa?”

Laki-laki itu segera menjawab, sebuah susu putih membusung milik seorang gadis bule melewati kami, perhatian sesaat, teralih pada buah dada bule itu.

“Saya lari dari pertanyaan.” Jawab laki-laki itu kemudian, “Sekian banyak pertanyaan.”

Wah absurd nih orang!
“Anda absurd,” kata saya.

Tapi tiba-tiba saya teringat Susi Similikitty, sekretaris saya itu, dulu pada waktu saya mengajaknya bekerja, Susi sangat antusian, matanya berbinar.

“Mau jadi sekretaris saya Sus?”

“Wah mau banget Pak!” kata Susi.

“Kamu jago ngetik kan? Pakai word?”

Susi mengangguk, “Saya juga pandai bikin teh manis kesukaan bapak!”

“Kalau begitu kamu diterima!”

“Wahh serius pak?”

Saya mengangguk.

“Saya sedang bikin kegiatan akbar, sebuah kepanitiaan yang membutuhkan sekretaris seperti kamu Sus.”

“Kegiatan apa itu pak?” Tanya Susi.

“Bunuh Diri Massal 2008.”
“Hah?!” mimik muka Susi langsung membeku, “Bapak absurd!”

*

Pertanyaan pertama;

“Anak siapa?”

Pertanyaan kedua;

“Umur berapa?”

Pertanyaan ketiga;

“Sekolah dimana?”

Pertanyaan keempat;

“Ranking berapa?”

Pertanyaan kelima;

“Punya pacar belum?”

Pertanyaan keenam;

“Sudah lulus belum?”

Pertanyaan ketujuh;

“Sudah kerja belum?”

Pertanyaan kedelapan;

“Kapan menikah?”

Pertanyaan kesembilan;

“Kapan menikah?”

Pertanyaan kesepuluh;

“Kapan menikah?”

Pertanyaan kesebelas;

“Kapan menikah?”

Pertanyaan keduabelas;

“Kapan menikah?”

 

“Dan semua pertanyaan itu yang selalu menghantui hidup saya, sedari kecil.” Kata laki-laki itu. “Maka, hidup di negeri orang, tanpa ada yang mengenal kita, akan meringankan sakit kepala saya, menepis segala pertanyaan-pertanyaan itu.”

Saya terdiam, bukankah semua pertanyaan itu yang juga menghantui hidup saya? Saya menatap mata laki-laki di hadapan saya.

“Jadi bagaimana, bisa saya menjadi peserta acara akbar Anda itu? 22 September itu?”

Saya menggeleng.

“Lalu, apa hubungan segala pertanyaan itu dengan keinginan Anda menjadi peserta Bunuh Diri Massal?”

Laki-laki saya meneguk Singha Beer terakhir dari gelasnya, lalu menuangkan sisa minuman yang berada dalam pitcher.

“Karena saya ingin punya satu jawaban, yang pertanyaannya nggak pernah dilontarkan orang-orang kepada saya.”

Saya terdiam, dan mendengarkan dengan seksama.

“Saya akan pulang, dan saya akan bilang pada orang-orang yang biasa bertanya pada saya,” lanjut laki-laki itu. Saya masih berkonsentrasi padanya.

“Halo, saya akan mati pada 22 September!” katanya tegas. “Dan memiliki jawaban itu, serasa sebuah kemenangan dalam hidup saya. Karena pada pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, saya selalu susah payah untuk menjawabnya.”

*

 Pertanyaan ketigabelas:

“Kapan matinya?”

“22 September nanti.”

Tapi maaf, kuotanya sudah terpenuhi. Saya pun mengucapkan kata perpisahan; “Selamat terbunuh pertanyaan!”

***