Pada hari itu,
22 September 2008.
Apa yang saya bayangkan?
Saya berdiri di sudut kamar 208 ini, di sebuah hotel kecil bernama Baan Sabai. Tirainya terbuka lebar, udara panas Bangkok menerpa wajah saya. Lalu benak saya melayang pada sebuah poster besar dengan pigura kayu di ruang kantor saya di sekretariat panitia Bunuh Diri Massal jauh di Jakarta. Judul poster itu; The Podium. Hitler tampak melangkah dengan gagah diantara ribuan prajuritnya yang tegak berdiri, melangkah diantara panji-panji kebesaran Partai Nazi.
Maka, itulah yang saya inginkan, saya ingin melangkah masuk ke Gedung Parlemen Republik Indonesia, Gedung MPR/DPR, seperti saat Presiden Republik Indonesia melangkah masuk saat hendak dilantik, atau kala sebelum menyampaikan pidato kenegaran. “The President of The United States of America!” teriak seorang berambut putih sesaat sebelum Commander in Chief melangkah masuk, saya lihat dalam film-film.
Saya mau begitu. Pada pagi tanggal 22 September itu. Susi akan berteriak, “Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2008!” dan saya melangkah masuk dengan tenang dan bergaya penuh wibawa. Walau setelah memanggil saya, Susi akan ngibrit jauh dari gedung itu agar tak sampai kesetrum!
*
Akhirnya saya mengambil tas ransel hitam bawaan saya, waktunya kembali ke Jakarta, setelah sekian hari melemaskan otot di kota Bangkok yang panas ini. Saya melangkah turun dari lantai dua hotel yang mirip dengan hotel Leonardo DiCaprio dalam The Beach itu.
Melangkah melewati resepsionis seraya melempar kunci kamar, mata saya menangkap sebuah taksi berwarna pink berhenti di depan hotel. Saya melangkah kesana, berharap supirnya mampu berbahasa Inggris. Maklum, dua kali saya naik taksi, dua kali pula supirnya tak mampu diajak berkomunikasi. Malah dua kali pula, foto di kartu pengenal yang terpampang di dasbor, tak sesuai dengan wajah pengemudinya.
Aku mengetuk kaca, pengemudinya terbangun dari tidurnya di jok depan.
“Airport?” Tanya saya.
“Okay!” jawabnya seraya membuka kunci pintu untuk saya. Mata saya menangkap sesuatu melingkar di pergelangan tangan kanannya. Gelang berwarna oranye. Gelang karet bertuliskan huruf Thai. Long Live The King!
“Sorry,” kata saya kemudian, “Where I can get that thing?”
“This?” jawabnya seraya menunjuk gelang ditangan kanannya.
“Yeah!”
“No no no, no in big market, no in seven eleven!” ujarnya serius, “No sale! No sale!”
“How much?” kata saya seraya mengeluarkan dompet, “hundred baht?”
“No no no, no sale!” katanya. Taksi kami masih berhenti di depan hotel.
“Two hundred?”
“No no no!”
“Three hundred?”
“No no no!” serunya dengan mimik serius. “Let’s go to the market first, then go to Suvarnabhumi, okay?”
“How long it takes?”
“Ten minutes!”
“Okay, I can buy my rubber-ring in that market ya?”
“Yes, yes.”
*
Maka taksi melaju kencang keluar dari depan hotel di kawasan Khaosan Road itu. Meluncur cepat masuk ke dalam jalan raya di kota Bangkok, berbelok ke kanan, ke kanan lagi, melewati sebuah tempat ibadah yang cukup besar, si pengemudi taksi memelankan kendaraannya, menyembah hormat pada bangunan berwarna kuning emas itu, menekan gas lagi, melewati Istana Kerajaan, memelankan kendaraannya lagi dan memberi hormat dengan menyembah lagi.
Dan di semua sudut kota, halaman-halaman gedung, dinding-dinding gedung. Saya mendapati satu wajah itu. Wajah yang juga terpampang di setiap lembar uang yang saya simpan di dompet saya. Seratus Baht, Lima ratus Baht, Seribu Baht! Wajah yang sama. Bukan penyanyi, bukan bintang film, bukan selebritis. Dia, sang Raja. Wajah yang terpampang dimana-mana itu, Raja Thai. Bhumibol Adulyadej. Dia raja terkaya di dunia dengan kekayaan 35 miliar dolar Amerika!
Sang Raja memiliki segalanya.
Sang Raja memiliki kota Bangkok ini. Memiliki negerinya, tanah Thai yang tak pernah dijajah bangsa mana pun. Sang Raja memiliki airport termewah di ASEAN yang mirip stasiun pesawat antar planet itu, Suvarnabhumi. Dan Sang Raja juga memiliki sesuatu yang paling berharga di dunia; cinta dari rakyatnya.
Dan saya, saat ini tengah menatap wajahnya yang terpampang dengan jelas di sebuah dinding rumah sakit, dari kaca sebuah taksi yang meluncur kencang menuju sebuah pasar. Saya tengah memburu gelang berwarna oranye, gelang tanda kecintaan rakyat Thai pada rajanya. Long Live The King!
*
Kami tiba di pasar itu.
Bukan pasar permanen rupanya. Hanya trotoar dengan pedagang-pedagang yang menggelar dagangan ala kadarnya. Bersama si supir taksi, kami menyusuri trotoar yang penuh orang itu.
Tapi sepanjang seratus meter, gelang itu tak terlihat.
Tak ada satu pun pedangang yang menjual gelang itu.
Tapi, semua pedagang memakai gelang itu di pergelangan tangan kanannya!
Saya menawar lagi.
Seratus baht.
Dua ratus baht.
Tiga ratus baht.
Lima ratus baht.
Tak ada yang mengangguk.
Semua hanya tersenyum dan menggeleng. Hingga, acara tawar menawar saya soal gelang itu, menciptakan kerumunan. Orang-orang mulai nyerocos berbahasa Thai yang saya tak mengerti sama sekali.
Ini soal sang Raja.
Semua orang disini mencintai sang Raja.
Tak ada yang mau menjual gelang mereka. Tidak dengan lima ratus baht, seribu baht, atau sekian juta baht!
Rasa cinta yang seperti apakah yang mereka rasakan, hingga bisa membuat seseorang berbuat demikian? Rasa cinta seperti apa yang bisa membuat orang rela berkorban demi orang lain? Demi seorang raja yang kaya raya sedunia? Yang tak perlu kita bela pun sudah mampu membela dirinya sendiri? Menjadi pujaan seluruh rakyat, bagaimana rasanya?
*
Selama ini aku hanya memuja.
“Aku selalu memuja Susi.” Kataku pada Susi Similikitty, suatu hari di jam-jam sibuk kami. “Aku belum pernah merasakan dipuja.”
“Saya memuja bapak.” Jawab Susi datar, seraya mengaduk teh hangat buat saya. “Walau kata orang bapak absurd, bapak freak, bapak aneh.”
“Oh ya?”
“Iya,” jawab Susi. “Saya memuja bapak.” Lanjut sekretaris saya itu, “Walau kata orang, kegiatan Bunuh Diri Massal bapak ini hanya sekedar upaya mencari perhatian, perbuatan melanggar norma dan etika. Tapi saya tetap memuja bapak.” Katanya lagi, adukan sendoknya semakin kencang.
“Begitu ya?” saya berkata, seraya menatap Susi lekat-lekat. Susi tampak lebih cantik hari ini. Si Similikitty ini. Sayangnya, memiliki Susi sama dengan harus jatuh cinta, dan jatuh cinta sama saja dengan bunuh diri. Jadi apa bedanya dengan 22 September nanti? Apa bedanya jatuh cinta dengan kegiatan bunuh diri massal nanti? Bedanya, hanya pada cara. Mati cepat dengan kursi listrik pada 22 September atau jatuh cinta dan mati perlahan-lahan.
Saya pilih mati dengan cara cepat dan penuh gaya serta beramai-ramai. Tanpa harus meninggalkan Susi yang pasti akan bersedih.
*
Kepalaku berdengung.
Orang-orang ini masih mengelilingi saya, nyerocos dengan bahasa Thai yang sama sekali tak saya mengerti. Sampai akhirnya, supir taksi saya menunjuk jam. “We should go to the airport!” begitu katanya dengan terpatah-patah. Saya pun mengangkat tangan. Semua diam dan memandang saya;
“You, you and you love your King!” kata saya menunjuk orang-orang Thai itu satu demi satu, kemudian saya menunjuk dada saya sendiri. “I love your King!” Usai berkata demikian, saya berbalik dan melangkah menuju pintu taksi diiringi sang pengemudi. Gelang itu sudah saya lupakan, setahu saya, uang bisa membeli segalanya, tapi tidak untuk cinta.
Sampai kemudian, bahu saya ditepuk.
Saya berbalik. Seorang anak muda berwajah Thai tersenyum kearah saya. Sang supir taksi pun berhenti. Anak muda itu, mengangkat pergelangan tangan kanannya, lalu melepas gelang warna oranye yang melingkar disana. Dan menyerahkannya pada saya. “Oh!” seru saya, lalu buru-buru mengambil dompet dan mengeluarkan uang lima ratus baht. Tapi laki-laki muda itu menggeleng.
“No no no!” seru laki-laki muda Thai itu menolak pemberian uang saya.
“Why?” Tanya saya. Dan laki-laki itu menjawab dengan bahasa Thai yang cepat. Saya segera menoleh kearah sang supir taksi.
“Just because, you love our King!”
Itu dia.Kenapa saya ingin melaksanakan Bunuh Diri Massal pada 22 September itu?
“Karena saya ingin memberikan hati saya.” Jawab saya pada Susi. Apa yang saya bayangkan pada 22 September 2008 nanti sudah jelas, saya akan duduk di Gedung Parlemen, dengan gelang berwarna oranye tanda cinta rakyat Thailand pada rajanya melingkar di tangan kanan saya. Gelang tanda cinta.
Just because I love you!
***





