Bunuh Diri Massal 2008

...suicide is rocks!

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
E-mail Print PDF

Namanya disingkat NJ, tapi ingin dikenal disini sebagai Rainyday. Baiklah, saya menuruti saja keinginan ketiganya ini, karena keinginan pertamanya tak mungkin terwujud dan keinginan kedua sudah saya tolak. Rainyday perempuan, seorang mahasiswi yang punya keinginan terbang dan tak mungkin menjadi peserta Bunuh Diri Massal 2008. Dua hal yang dia tulis, sebuah side-story untuk memuaskan keinginannya terbang. Serta sebuah SURAT PEMBACA, yang layak kita baca bersama;

----

 

SURAT PEMBACA

 

Ini tidak adil!

Kenapa cuma laki-laki yang boleh ikut acara Bunuh Diri Massal 2008?

Saya pikir yang mencetuskan ide untuk event ini memang adalah seorang yang sangat jenius.... Dan diskriminatif juga terhadap wanita. Kurang ajar, memangnya dia pikir cuma laki-laki yang bisa kehilangan hatinya? Memangnya cuma laki-laki yang boleh menentukan hari matinya sendiri?

Saya sebagai wanita sangat keberatan dengan pengaturan ini, ini 2008, Bung! Wanita harusnya sejajar dengan laki-laki, bukannya lagi-lagi direndahkan oleh paham chauvinis laki-laki seperti ini!!!


NJ - Kelapa Gading 

*


Saya tidak bisa menahan geli ketika membaca salah satu surat pembaca di salah satu harian ibukota ini. Mungkin ini juga alasannya mengapa ketua panitia tidak mengizinkan ada wanita... mereka terlalu emosional! 

Lihat saja surat itu, penulisnya cenderung bersikap seakan-akan dia mau membunuh orang, bukannya bunuh diri.

Saya sih santai. 

Nama saya sudah terdaftar, saya pasti akan ikut event terakbar tahun ini. Saya akan mati. Akhirnya, setelah 29 tahun saya hidup di dunia yang luar biasa menyiksa ini, saya bisa mati. Bersama-sama dengan orang-orang putus asa lainnya. Sungguh menyenangkan mengambil keputusan ini bersama 999 orang lainnya. Paling tidak saat menghadap sang Khalik nantinya, kami tidak akan kesepian dan dihukum bersama-sama, worse come to worse.

Ah, senangnya membayangkan hari dimana saya akan bebas.... bebas dari mimpi buruk ini. Kematian pasti akan bisa membangunkan saya. Mengulang mimpi buruk selama 29 tahun bukanlah sesuatu yang menyenangkan. At least, not for me.

Saya benci dengan pikiran-pikiran naïf yang beranggapan bahwa hidup ini indah. Cuih! Omong kosong itu semua! Hanya anak kecil yang patut berkata hidup ini indah, mereka nggak punya masalah. Tidak ada yang perlu dipikirkan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Buat mereka, mungkin, hidup memang indah. Kenyataannya sungguh jauh berbeda dari itu semua.

Akhirnya, saya ingat kalimat yang saya cantumkan sebagai alasan bunuh diri. “Mungkin kematian akan mengusir semua mimpi buruk, semua kesakitan dalam hidup ini. Mati adalah jalan keluar tersingkat dan tercepat. Terbaik.”

*

 

Kenyang sekali rasanya. Ini makanan terenak yang pernah saya makan seumur hidup ini. Saya salut pada panitianya, benar-benar menyiapkan kondisi yang terbaik untuk bunuh diri. Ketua panitianya benar-benar jenius. Tidak ada kata lain untuknya yang sanggup mendeskripsikan pemikirannya.

Tidak berapa lama lagi. Tidak sampai 1 jam lagi. Saya akan mati. Saya akan pergi meninggalkan segalanya. Saya tidak perlu peduli apapun lagi. Entah apa yang menanti di sana, itu dipikirkan nanti saja. Yang penting, sekarang saya akan mati. Ada kegembiraan tersendiri, ada excitement yang menggelegak saat saya menyadari bahwa sungguh, saya akan mati hari ini.

Sekarang saatnya, saya tinggal duduk di salah satu kursi itu, lalu 5 menit kemudian saya akan merasakan sakit sedikit, lalu saya akan bangun dari semua mimpi buruk ini. Luar biasa, apa yang bisa dilakukan kematian terhadap seseorang...

Saya memutuskan untuk memejamkan mata. Memutuskan untuk menikmatinya saat rasa sakit itu datang. It wouldn’t be so bad, would it? Saya akan meninggalkan kehidupan, bersamaan dengan pekerjaan yang tiada akhir, orang-orang yang menyebut dirinya teman, apartemen, mobil.... kenapa saya baru memikirkannya sekarang?

*


Hitung mundur dimulai.

5 ....

4 ....

3 ....

2 ....

1 ....

.....

Apakah saya sudah mati???? 

Memang tidak buruk ya, tidak sakit sedikitpun. Hanya gelap. 

Lho, mengapa tiba2 jadi ramai begini? 

Apa neraka memang ramai seperti ini???

“Maaf saudara-saudara, dikarenakan sumber daya listrik tidak mencukupi, acara Bunuh Diri Massal ini dengan sangat menyesal harus ditunda sementara waktu....”

GUBRAK!

*

 

Saya tiba-tiba merasakan sakit yang amat sangat. Ngilu. Kalau acara Bunuh Diri Massalnya batal, kok saya kesakitan????

Oalah, ternyata saya tertidur di sofa setelah membaca surat kabar tadi. 

Ah, kok bisa sih?!

Saya merogoh saku untuk mencari handphone saya. Dengan buru-buru, saya menelepon sebuah nama.

“Halo?”

“Bung, PASTIKAN ACARA BUNUH DIRI MASSAL NANTI TIDAK BATAL! SAYA TIDAK MAU SAMPAI ADA KESALAHAN TEKNIS YANG MEMBUAT SAYA BATAL MATI NANTI!!!!!”

Lalu saya menutup sambungan. 

Mungkin, emosi wanita di surat pembaca tadi sudah menular kepada saya.

***

 

side-story BDM 2008

judul asli; Neverending Nightmare author ; Rainyday/ Nina Josephina (only in facebook)

Last Updated ( Thursday, 18 September 2008 11:43 )