Bunuh Diri Massal 2008

...suicide is rocks!

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
E-mail Print PDF

Tak ada pengantar untuk side-story Bunuh Diri Massal yang ini, kecuali kisahnya ditulis oleh Dansapar. Judulnya pun tak berubah, hanya pic dalam postingan aslinya yang diganti, karena terlalu horor. Juga tak ada yang salah dengan cerita ini, kecuali cintanya, dan pangkat duanya. Selamat menikmati;
 
Saya kembali menulis. Sebuah inspirasi membuat saya bersemangat. Inspirasi untuk bunuh diri! Hohoho. Thx banget buat Nugros yang sukses membuat saya untuk sedikit memaksa dari zona kenyamanan 'membaca' saja menjadi kembali menekan tuts keyboard, saya menulis! Padahal menulis pun kadang semencekam bunuh diri.

Dari Bunuh Diri Massal 2008 (klik aja untuk membaca) oleh Fajar Nugros dan Alanda Kariza saya ingin membagi cerpen yang terinspirasi dari BDM 2008.


-----------------------------------

Waktu ternyata tak menyeret langkahnya. Tanggal yang tertulis di selebaran yang tertempel di dinding kamar semakin mendekat. Tak lebih dari sepekan lagi. Saya makin gamang! Malam-malam terakhir ini mendadak gelisah. Selebaran itu seakan-akan terus melayang-layang di atas kepala dan menuntun setiap mimpi menuju pagi yang selalu membuat saya bergidik namun mata saya penuh binar seakan menemukan sebuah jawaban.

Saya mengambil handphone dan menekan nomor yang tertera dalam selebaran itu. Jikalau batas waktu pendaftaran telah ditutup dan dengan berbagai cara saya tak bisa lagi mendaftar, maka saya akan datang sendiri ke Gedung MPR/DPR dan membawa sebuah pisau dapur.

***


Saya kembali menyentuh jemarinya. Kehangatan yang keluar dari jemarinya membuka kembali pintu hati. Entah sudah ke berapa kalinya saya menjadi begitu tergoda olehnya.

“Satu”, saya kemudian berucap.

“Dua”, lanjut saya.

“Ti … ga!!”, jawabnya meneruskan apa yang telah saya ucapkan sambil mengacungkan tiga jarinya. Kemudian dia tertawa riang. Saya pun ikut tertawa.

Adinda. Gadis kecil itu mengajak saya bermain balok-balok kayu yang bernomor. Dia berlarian sambil mengambil balok kayu bernomor sesuai perintah saya. Belajar sungguh menyenangkan, begitu promosi playgroup di mana saya bekerja part time ini.

“Kakak!! Angka cembilan”, katanya sambil berlari lalu menubruk badan saya. Kami pun berpelukan. Tak ada ada payudara. Saya merasa ada yang mengganjal. Di dada sekaligus selangkangan.

***

Bunuh Diri Massal 2008! Suatu ide yang sangat fantastis! Sungguh sayang jika saya melewatkan begitu saja. Meskipun awalnya saya begitu ragu. Namun di malam-malam terakhir dan di antara mimpi-mimpi yang begitu misterius sekaligus menyeramkan hingga ketika setiap pagi tiba entah kenapa saya selalu tersenyum ketika menemukan selebaran itu. Selebaran Bunuh Diri Massal yang saya pajang di dinding kamar samping tempat tidur!


Saya ingin berhenti melepas pejuh dan tak ingin memberikan aroma khas pejuh di kamar saya. Cukup sampai di sini. Tak boleh ada Adinda lagi di dalam kamar saya! Lebih tepatnya adalah sebuah fantasi tentang gadis kecil bernama Adinda!

Cinta ini sudah menjadi cinta yang salah. Karena Adinda juga tak mempunyai payudara!

***


Undangan Ulang Tahun ke-3.

Adinda Putri Amelia.

15 September 2008.


Baru sekali ini saya mengunjungi pesta ulang tahun seorang murid. Sebagai guru part time saya tak bisa begitu dekat dengan murid-murid di play group. Bahkan saya pun tak punya akses untuk melihat lebih detil identitas murid saya, di samping saya memang tak punya waktu untuk itu, saya sedang sibuk menyusun skripsi.


Namun seketika badan saya mendadak lemas saat memasuki rumah Adinda. Sosoknya yang tegap seakan menampar saya lalu menyeret saya kembali di masa ketika pohon mangga di depan sekolah masih belum terlalu rindang dan belum pernah sekali pun berbuah, namun saat itu saya telah membuahkan sebuah perasaan yang kemudian saya tahu itu namanya cinta! Meskipun saat itu pula saya tidak begitu yakin bahwa perasaan itu adalah cinta, karena ayah saya mencintai ibu saya yang mempunyai berpayudara!

Bahkan boleh dibilang hanya 50% andilnya, ayah dari Adinda. Namun saya telah bisa dibuat begitu jatuh cinta. Cinta yang ternyata sudah menjadi cinta yang salah pangkat dua! Apakah saya akan kuat mengakarnya?

Saat mengalami perasaan cinta dari ayah Adinda saya masih mengenakan celana pendek berwarna biru. Dan hati saya pun selalu membiru ketika saya berjumpa dengannya selama enam hari selama hampir 4 tahun. Saya masih kelas 1 SMP dan Ayah Adinda adalah duduk di kelas tiga yang ketika lulus tetap melanjutkan sekolah SMA milik yayasan yang bergedung sama.

Tak hanya hati saya yang telah terenggut oleh ayah Adinda. Sperma pertama saya juga direbut oleh tangan dan mulutnya, bukan tangan saya sendiri, dan bukan oleh mimpi akibat membaca stensilan. Mulai saat itulah saya tidak bisa mempunyai mimpi-mimpi tentang payudara!

Ayah Adinda seakan tak pernah menganggap serius kejadian sewaktu SMP itu. Saat saya bertanya mengapa ayah Adinda melakukan hal itu pada saya dan begitu pula sebaliknya, saya melakukan untuknya, dia hanya menjawab ringan dan datar, “Aku ingin mempraktekan adegan di film biru!”

Begitu pula saat ayah Adinda mengenali saya sebagai guru part time Adinda yang datang menghadiri sebuah pesta ulang tahun, sikapnya datar dan akrab tapi tak berlebihan.


Padahal perasaaan saya sudah ingin meledak. Saya bahagia namun tak menyangka. Saya tersenyum sekaligus menangis. Ada sesuatu yang mengganjal. Saat ini hanya terjadi di bagian selangkangan. Saya habis berpelukan dengan Andinda dan ayahnya. Mengganjal pangkat dua!

Dalam dada sudah tak bisa berkata-kata.

***


Selamat datang kematian. Saya adalah salah satu calon peserta Bunuh Diri Massal 2008. Saya akan mati bersama cinta yang salah pangkat dua ini. Jika saya tak berhasil mengakarnya, saya berharap kematian inilah yang akan mengakarnya! Sehingga saya akan bisa mencintai payudara, meskipun hanya di neraka!

***

ps:

Jikalau nantinya akan dibuat Monumen Peringatan Bunuh Diri Massal 2008 oleh Pemerintah tolong cari nama saya dalam daftar nama yang tertulis di monumen tersebut. Kalian boleh sambil berfoto dengan senyum tiga jari yang paling menawan di depan nama saya yang tertulis di Monumen Bunuh Diri Massal 2008 tersebut, tapi jangan menyesal jika saya akan menghantui kalian =)


Bunuh Diri Massal 2008

title Cinta Salah Pangkat Dua - side-story by dansapar

all series in bdm2008.everybodylovesirene.com