Bunuh Diri Massal 2008

...suicide is rocks!

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
E-mail Print PDF

Hanya ada dua pilihan untuk mereka, rakyat negeri ini, yaitu;

Mati perlahan-lahan atau mati dengan cara cepat.

Cara pertamalah yang paling popular. Rakyat mati perlahan-lahan. Caranya banyak;

Harga BBM yang mencekik, harga sandang pangan yang melilit, dan segala cekik-mencekik lain yang sebenarnya dilarang, namun tampak nyata disegala sendi kehidupan. Atau kalau kamu kaya, punya lebih dari lima mobil di garasi rumah, silahkan mati perlahan dijalanan, menghabiskan sisa umur ditengah macet yang menggurita.

Cara kedua, memang kurang popular. Mati cara cepat.

Contoh cara cepat adalah dengan menyertakan nama kamu dalam daftar penerima Bantuan Langsung Tunai, atau belakangan dikenal sebagai Bantuan Langsung Tewas. Silahkan antri untuk mendapatkan uang seratus ribu dari Pemerintah yang baik hati itu, berdesakan dengan ribuan orang dan segera mati terinjak. Eh, tadi saya bilang Pemerintah baik? Tentu saja, mereka menghargai nyawa rakyatnya lebih tinggi dari pada orang-orang kaya di negeri ini. Pemerintah memberi seratus ribu, dan orang-orang kaya itu paling mentok cuma 50 ribu. Malah baru-baru ini di Jawa Timur, nyawa 21 rakyat cuma dihargai masing-masing 30 ribu!

Jadi, Pemerintah memang baik, telah memberi contoh. Buktinya, pola program BLT itu, bagi-bagi duit untuk rakyat itu, dicontoh langsung oleh orang-orang kaya. Semua mengantri, berdesakan dan tewas terinjak. Saya kira, benar kata teman saya, keledai pun pasti ogah disamakan dengan negeri ini, karena keledai hanya terperosok dua kali ke lubang yang sama. Negeri ini, tiap tahun membuat rakyatnya mati, entah mati perlahan, entah mati dengan cara cepat yang dibuat-buat. So, sekarang anda tahu kan, kenapa banyak orang yang mendaftar menjadi peserta Bunuh Diri Massal? Karena inilah inovasi baru untuk cara cepat mati.

*

Jadi inilah negeri seribu satu masalah;

Air jadi masalah, listrik jadi masalah, tanah jadi masalah, jalan jadi masalah, transportasi jadi masalah, lumpur jadi masalah, bahkan makan gorengan saja bisa jadi masalah karena mengandung plastik!

Maka, jika mati perlahan pun menjadi masalah, apalagi mati dengan cara cepat, dan dilakukan dengan bersama-sama pula; melibatkan seribu orang. Tentu saja banyak masalahnya;

Dan, masalah datang ketika siang tadi saya tengah berlatih pidato perpisahan yang akan saya ucapkan pada farewell party, pidato yang akan saya bacakan di depan seluruh panitia Bunuh Diri Massal 2008.

“Ini tengah pekan terakhir saya masih bersama kalian semua.”

“Kalian semua?”

“Heh, di mana kalian semua?”

Saya menoleh kesana kemari, mengintip keluar jendela, lalu keluar ruangan saya, membuka pintu, dan ternyata, tidak ada satu pun makhluk hidup di kantor sekretariat Bunuh Diri Massal 2008.

Tak ada Susi,

Tak ada juga si anak magang.

Tak ada kalian semua!

Keparat!

Mata saya akhirnya menatap notes diatas meja. Coretan tangan Susi.

“Maaf pak, saya keluar kantor sebentar, ada interview dan sesi pemotretan untuk tabloid, mereka mau mengangkat profil saya gitu pak. Katanya, saya sekarang ngetop!”

Hmm…

“Susi-susi…” gumam saya, “Belum tahu dia, bahwa menjadi selebriti pun bisa menjadi masalah di negeri ini!”

Lalu note kedua;

“Pak maaf, saya gak bisa ke kantor lagi, kan saya harus kembali ke sekolah. Tapi pas tanggal 22 September itu saya udah berencana bolos kok pak, tanggal 23-nya saya terima rapor, jadi saya bisa mengurus pemakaman bapak.”

Hmm…

Pemakaman…

“Permisi!”

Saya buru-buru meremas dua notes itu. Berbalik dan mendapati seorang laki-laki bertubuh tambun, bercelana kain dan kemeja hitam sudah berdiri sangat dekat dengan saya. Nah, doi masuk begitu saja tanpa permisi…

“Ya?” Tanya saya, “mencari siapa?”

“Saya mencari kalian semua.”

“Tidak ada kalian semua disini,” jawab saya, “Sekretaris saya sekarang jadi selebriti dadakan, anak magang yang membantu saya sudah kembali sibuk sekolah, jadi yang ada hanya saya.”

“Anda siapa?” Tanya laki-laki itu.

“Saya…” saya mulai ragu untuk menjawab, jangan-jangan lelaki di depan saya ini preman Tanah Abang yang dikirim Tuan Pasciotti untuk menyingkirkan saya lebih cepat sebelum tanggal 22 September. Maka saya balik bertanya;

“Anda siapa?”

“Saya PAK JURKUN!”

“Pak Jurkun?”

“Ya,” kata laki-laki itu, seraya mengeluarkan sebatang rokok tanpa filter. “Persatuan Kelompok Juru Kunci se-DKI Jakarta.”

*

Kami berdua akhirnya duduk berhadap-hadapan. Pak Jurkun menatap saya lekat-lekat. Saya pun berusaha rileks.

“Saya kemari, adalah dalam rangka untuk menyampaikan apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama para juru kunci tempat pemakaman umum se-DKI Jakarta.”

Saya mendengarkan kata-katanya yang tertata rapi laiknya teks pidato itu. Pak Jurkun melanjutkan kalimatnya;

“Jadi, keputusan kami semua yang sudah dibicarakan bersama-sama tempo hari di pemakaman karet pada malam Jumat Kliwon, bulan sembilan, tahun…”

“Pak… pak…” kata saya menyela, “Keputusannya apa? Apa yang hendak disampaikan?”

“Jadi begini, kami ini, kelompok Juru Kunci seluruh pemakaman se-DKI Jakarta…”

“Keputusannya?”

“Kami semua juru kunci pemakaman menolak menerima jenazah-jenazah peserta Bunuh Diri Massal 2008 nanti dimakamkan di pemakaman yang kami urus!”

Aha!

Slompret!

“Begini ya pak,” kata saya kemudian, “Kalo bapak warga Bantargebang dan bapak ikut menolak sampah dibuang ke tempat bapak, saya bisa mengerti karena baunya menyebar kemana-mana. Tapi kami ini, semuanya nanti jadi mayat-mayat pak, bukan sampah, kami sama dengan mayat-mayat lain yang biasa bapak makamkan di pemakaman bapak!”

“Beda!” sahut Pak Jurkun dengan tegas, telapak tangannya membuka lebar di depan muka saya. “Kalian itu matinya bunuh diri, mati penasaran!”

Saya tercekat.

“Dan kami ini, juru kunci se-DKI Jakarta, sudah capek mengurusi mayat-mayat yang mati penasaran!” lanjut Pak Jurkun, “Tanpa mati dengan cara bunuh diri saja sudah banyak mayat yang penasaran.”

“Maksud bapak?”

“Setiap hari kami menerima satu mayat saja sudah repot. Mayat tak dikenal, mayat orang mati kelaparan, mayat orang dibunuh diam-diam, mayat aktivis, mayat ekstrimis. Mayat perempuan simpanan, mayat orang-orang bertatto juga pernah.” Ulas Pak Jurkun panjang lebar. “Itu satu mayat setiap hari, bayangkan jika dalam satu hari, kami menerima kiriman seribu mayat?”

Saya memandang Pak Jurkun dengan penuh rasa tak percaya. Sekali lagi, slompret! Karena keparat cuma buat Susi yang saat ini pasti tengah menikmati siraman blitz kamera!

“Apa masalahnya tidak bisa dicarikan solusi pak?” Tanya saya.

“Sangat susah.” Jawab Pak Jurkun. “Di Jakarta sini, hanya ada 95 Tempat Pemakaman Umum, total luasnya 580 hektar!”

Saya hendak menyela, tapi Pak Jurkun mengangkat jemari kekarnya di muka saya, ia tak mau dipotong;

“Dan setiap harinya, rata-rata kami melayani 200 mayat yang akan dikuburkan!” lanjutnya, “Jadi bisa Anda bayangkan pada tanggal 22 September nanti, kami akan melayani 1000 mayat peserta dan 200 mayat umum kan, total jendral 1200 mayat!”

“Jadi intinya?”

“Tidak ada tempat.”

*

Negosiasi terhenti. Saya harus memutar otak.

Negeri seribu satu masalah ini punya jurus ampuh buat menyelesaikan masalah, resep leluhur turun temurun; yaitu jurus musyawarah mufakat. Dan itulah yang terjadi kemudian.

“Bapak punya masalah, dan jika acara ini gagal terlaksana, saya akan mendapat masalah, jadi mari kita cari jalan tengah.”

“Bisa diatur.”

“Permintaan saya cuma satu, Pak Jurkun dan teman-teman menyediakan lahan buat seribu peserta Bunuh Diri Massal, itu saja.” Kata saya kemudian, “Dan permintaan bapak adalah?”

Pak Jurkun tersenyum senang, dia lalu mengeluarkan kertas folio bergaris yang penuh coretan cakar ayam, dan menyodorkan kepada saya;

  1. Sebelum acara dilaksanakan, semua peserta wajib menandatangani surat pernyataan bahwa mereka tidak akan mati dengan penasaran.
  2. Semua peserta akan dimakamkan di TPU Kepulauan Seribu, dalam satu lubang khusus.
  3. Biaya menggali satu lubang sesuai Perda no 1/ 2006 Tentang Retribusi Daerah adalah 150 ribu. Namun khusus untuk peserta Bunuh Diri Massal naik menjadi 1,5 juta.

"Kenapa Pulau Seribu?" tanya saya.

Pak Jurkun menarik napas, lalu menjawab; "Pulau Seribu satu-satunya kabupaten di DKI yang nggak populer dan tertinggal, dengan adanya kuburan peserta Bunuh Diri Massal disana, pulau itu akan menjadi tempat ziarah dan ramai dikunjungi wisatawan yang ingin berfoto."

“Hmm…” saya bergumam saat selesai membaca tulisan di kertas folio itu. “Ini tidak bisa ditawar?”

Pak Jurkun menggeleng. “Itu kesepakatan Persatuan Kelompok Juru Kun…”

“ Ya ya pak, saya sudah tahu.” Potong saya. “Hanya ini kan?” Tanya saya lagi meyakinkan, tidak ada beaya tambahan kan?”

“Satu lagi,” ujar Pak Jurkun seraya mengangkat tangan kekarnya lagi.

“Apa?” Tanya saya menyelidik.

“Kami berhak atas Hak Cipta jika seribu hantu yang gentayangan di kuburan massal peserta Bunuh Diri Massal itu diangkat menjadi film horror!”

“Hah?” saya melongo. Tapi Pak Jurkun meneruskan kata-katanya;

“Film horror berjudul Hantu Bunuh Diri Massal. Pasti box-office!”

Dan masalah di negeri ini ternyata berakar pada dua juru. Yang pertama adalah juru kampanye dan yang kedua, adalah juru yang tengah duduk di hadapan saya ini...

Kepa... bukan, bukan keparat, karena keparat buat Susi yang kini menjadi selebriti!

Slompret!

 

***

fajarnugros 18/9

all series on bdm2008.everybodylovesirene.com