Bunuh Diri Massal 2008

...suicide is rocks!

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Bagaimana Matinya?

E-mail Print PDF

Sebelumnya, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua yang membaca tulisan ini. Saya telah membunuh mimpi. Bagi saya, membunuh mimpi seseorang adalah salah satu dosa paling besar, dan harus masuk neraka paling dasar. Saya membuat puluhan ribu orang memupus mimpi mereka. Bagaimana tidak? Kapasitas Gedung MPR/DPR hanya sekian ratus, sekian ribu… Sementara itu, ada hampir tigapuluh ribu orang yang ingin ikut bunuh diri secara massal bersama saya. Seperti sudah saya katakan sebelumnya. Semua yang mendaftar akan diseleksi.

Ada beberapa alasan bunuh diri yang menjadi favorit saya. Kalaupun tidak jadi favorit, ada beberapa yang mencuri perhatian.

RAMANDA
Saya ingin, sekali saja, duduk di kursi MPR/DPR. Saya sudah mengerahkan segala kemampuan dan uang, sampai-sampai orang menganggap saya gila setelah mengeluarkan 8 miliar dan gagal jadi anggota DPR. Sekarang saya sudah rela mati, asalkan sempat duduk di sana. Terima kasih karena telah memindahkan tempat dari Monas ke MPR/DPR.
SIDHASADYA
Tentu saja karena takdir. Apalah arti sebuah nama? Untuk saya, nama ini penting. Sidha berarti mati. Saya sedia mati.
JOJO
Life is God’s game, humans are the pawns. Tapi gue bukan pion. Gue udah menentukan cara gue hidup. Menurut gue, gue jugalah yang seharusnya menentukan cara gue mati. Bukan supir truk yang mabuk, bukan pembunuh berantai, bukan sel kanker.

Ketika membaca formulir pendaftaran yang terakhir, saya segera mengidolakan si pendaftar yang bernama Jojo itu. Ingin sekali saya mengangkat gagang telepon yang ada di depan saya dan menghubungi nomor ponsel Jojo yang tertera pada lembaran ini.

Awalnya, saya kira, mereka semua ingin berpartisipasi dalam bunuh diri massal ini karena sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup mereka. Ketika kita menyetir ke suatu tempat yang jauh dan kehilangan arah, kadang-kadang kita ingin berhenti dan mengambil arah putar balik. Kembali ke tempat semula, kembali ke awal, ketika kita tahu kita takkan pernah mencapai tujuan dan sudah terlalu lelah akan sebuah rintangan. Ternyata, Jojo justru menilai sebaliknya. Ia ingin bunuh diri untuk melengkapi hidupnya. Tidak karena putus asa, tetapi hanya ingin menentukan sendiri cara ia mati, kapan ia mati, di mana ia mati. Bunuh diri untuk menyempurnakan hidupnya.

Saya jadi kembali berpikir. Sejak awal perencanaan acara bunuh diri massal sampai hari ini, belum ada satupun dari kami yang mencetuskan bagaimana bunuh diri massal akan dilaksanakan. Ada banyak cara untuk bunuh diri. Minum racun atau obat tidur sebanyak-banyaknya, menembak diri melalui mulut atau pelipis kepala seperti di film-film, lompat dari atas gedung tingkat 30 atau 25 saja juga bisa dilakukan. Cara terakhir cukup menarik. Ada begitu banyak gedung pencakar langit yang dibangun di Jakarta. Mengapa bangunan-bangunan itu dibangun dengan sekian banyak lantai? Bisa saja untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin bunuh diri, bukan? Jadi, kenapa tidak dimanfaatkan?

Sayangnya, lokasi juga sangat menentukan bagaimana kita akan melaksanakan hal ini. Gedung MPR/DPR sangat besar. Bisa saja kami meminta beberapa orang profesional, bahkan yang sudah ada di dalam penjara karena kasus bom Bali dan bom lainnya, untuk membuatkan bom berskala besar yang mampu membunuh satu atau dua ribu orang. Kalau tidak bisa, kami akan meminta mereka untuk membuat sepuluh bom, masing-masing mampu membunuh tiga ratus orang, itu juga sudah lumayan. Tapi, negara ini sudah miskin. Acara ini akan kehilangan esensinya apabila prosesi bunuh diri nantinya justru menyulitkan negara. Saya pribadi sebenarnya ingin meringankan beban presiden dengan mengajak ribuan orang untuk bunuh diri bersama-sama.

Mungkin program Keluarga Berencana tidak perlu lagi digalakkan. Hal itu selalu sulit, bukan, karena orang-orang Indonesia menganut faham “banyak anak, banyak rejeki”? Sebaiknya mereka menukar program KB dengan acara bunuh diri massal. Dana yang dibutuhkan tidak banyak. Hanya perlu menyediakan tempat, menyediakan kertas untuk formulir, dan sebuah line telepon untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Kami di sini bekerja secara sukarela, tentu saja. Toh, dalam hitungan hari, kami akan mati bersama-sama di dalam gedung beratap hijau tersebut.

Saya kembali melihat satu demi satu formulir pendaftaran yang sudah diisi, meski jumlahnya ada ribuan. Bagaimana acara ini akan dilaksanakan? Membakar Gedung MPR/DPR? Menyewa penembak jitu untuk menembak ribuan orang satu persatu? Menyediakan ribuan senjata api agar peserta bisa menembak bagian manapun dari tubuh mereka? Menyiapkan berliter-liter racun arsenik agar kami semua dapat meninggal semulia Munir? Atau menyemprotkan gas beracun ke dalam Gedung MPR/DPR dalam jumlah yang tidak masuk di akal?

Cara-cara bunuh diri yang ditulis oleh calon peserta semuanya biasa-biasa saja. Tidak ada satupun yang spektakuler. Minum racun. Tembak mati. Memutus urat nadi dengan silet. Buat apa ikut bunuh diri massal jika ingin bunuh diri dengan cara seperti itu? Lakukan saja di kamar Anda. Saya segera mencari formulir milik Jojo dan…

Cuma gue yang boleh tau bagaimana gue akan mati.

***