Mendadak, segala sesuatunya meledak diluar perkiraan.
Pertama, keputusan bahwa kegiatan BDM akan digelar di Gedung MPR/DPR ternyata membuat jumlah peserta menjadi meningkat. Hampir 30 ribu orang kini terdaftar sebagai calon peserta!
Susi Similikitty, sekretaris panitia BDM 2008, kini tak sempat lagi mampir ke salon sepulang dari kantor. Sekarung formulir pendaftaran yang datang setiap saat, membunuh waktu luang Susi. Ah, kasian saya melihatnya, hingga saya berpikir untuk merekrut anak magang bekerja dalam kepanitiaan.
Dan anak magang itu adalah gadis kecil berumur 17 tahun!
Dia datang membawa gulungan kertas besar, masuk ke ruangan saya dengan berbalut kaos putih ketat bertuliskan huruf kapital besar berwarna merah; SUICIDE IS ROCK!
Bah!
Pusing saya melihat anak magang satu ini. Dalam hati, saya jadi penasaran, sesungguhnya dia tahu nggak sih makna dari tulisan yang tertera persis diatas buah dada-nya yang belum tumbuh sempurna itu?
“Ini gulungan peta-nya pak.” Kata si anak magang. Saya segera meraihnya, Perwira Polisi yang tempo hari berbicara dengan saya untuk memutuskan tempat kegiatan dilaksanakan, mengirimi gulungan cetak biru Gedung Parlemen Indonesia. Lalu handphone saya berdering.
“Pak Ketua?”
“Siap.”
“Sudah terima cetak birunya?”
“Siap. Right on my desk.”
“Jadi begitu ya pak Ketua.”
“Begitu bagaimana?”
“Loh, saya sudah nitip pesan pada panitia yang ngambil peta itu dikantor saya tadi, dia belum bilang?”
Saya melirik tulisan diatas buah dada itu; SUICIDE IS ROCK yang bergerak kesana-kemari. Si anak magang nyengir kuda!
“Saya bilang, kapasitas gedung parlemen kita terbatas, hanya untuk seribu orang Pak Ketua.”
“Begitu ya?”
“Jadi, Anda harus menyeleksi peserta yang 25 ribu itu menjadi seribuan orang Pak Ketua.”
“Pendaftarnya sudah 30 ribuan orang.” Selaku.
“Hah? Segitu banyaknya?”
“Ya, segitu meningkat pesat sejak Anda memutuskan kegiatan akan dilangsungkan di gedung parlemen.”
“Gila!” sahut sang perwira polisi dari seberang, “Mereka sadar kan kalau mereka ke Gedung Parlemen untuk mati, bukan untuk jadi anggota dewan?”
“Yah, mungkin, banyak yang ingin mati secara terhormat Pak.” Sahut saya.
“Gila!” Teriak sang perwira, membuat saya refleks menjauhkan handphone dari telinga sendiri, “Orang-orang sudah pada gila rupanya!”
*
Banyak hal yang membuat orang-orang menjadi gila.
Dan tugas si anak magang untuk menyiapkan laporan pada si perwira polisi yang meminta data latar-belakang peserta yang disebutnya ‘sudah pada gila’ itu.
“Seribu orang peserta, datang dari Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka korban Lumpur Lapindo pak.”
“Seribu orang lain masuk kategori korban dan lain-lain.”
“Maksudnya dan lain-lain?”
“Yaaah, bapak tahulah,” kata si anak magang, “Korban gusuran, korban kenaikan harga-harga. Korban ketidak-adilan negeri ini.” Terang si anak magang lagi, “Karena kategorinya banyak, saya kelompokkan menjadi ‘Korban Dan Lain-Lain.”
“Hmmm, cerdas kamu!” puji saya. "Korban cinta, adakah yang masuk kategori korban cinta?"
Si anak magang menggeleng. Dari 30 ribu orang dan belum ada satu pun korban cinta? Sial!
Tiba-tiba pintu ruangan saya terbuka, Susi Similikitty, sekretaris saya masuk bersama seorang laki-laki paruh baya.
“Pak Ketua.” Kata Susi, “Ini professor itu.”
Saya segera berdiri menyambut uluran tangan dan senyum hangat si Profesor. “Apakabar?” sapa saya, sang professor mengangguk.
“Saya sudah siapkan apa yang Pak Ketua minta.” Ujar si professor. Wow! Bisik saya dalam hati, tanpa basa-basi, benar-benar ilmuwan sejati. Sang professor segera membuka tas koper hitamnya, dikeluarkannya beberapa gulungan kertas, dan dibukanya diatas meja, persis diatas cetak biru gedung parlemen.
“Ini rencananya.” Kata sang professor kemudian. Saya memperhatikan gambar dalam gulungan kertas yang terbuka itu. “Saya akan membuat Gedung Parlemen menjadi kamar listrik raksasa!” serunya.
“Wow! That’s rock!” seru si anak magang terlonjak dari tempatnya berdiri. Suicide is Rocknya bergoyang-goyang kesana kemari. Sementara saya merasa sangat excited dengan rencana si professor yang sangat brilian itu. Konsepnya memang berawal dari sesuatu yang sederhana, kursi parlemen sering disebut sebagai kursi panas. Jadi tak ada salahnya, kegiatan BDM itu nantinya akan menerapkan istilah tersebut. Panas yang mematikan!
“Bagaimana?” Tanya si professor. Saya mengangguk-angguk.
“Bravo, prof!” puji Susi Similikitty seolah mewakili saya.
“Ya, hanya tinggal satu masalah besarnya.”
“Apa?” Tanya saya.
“Ijin Gedung Parlemen?”
“Sudah saya kantongi Prof. Para anggota dewan sedang reses pada tanggal itu, kalau pun tidak, mereka mungkin sedang berkunjung ke luar negeri, studi banding Prof.”
“Atau kita buat reses sekalian? Hahaha.” Sang Profesor berusaha bercanda.
“Berapa daya listrik yang dibutuhkan Prof?”
Kening sang Profesor berkerut. Kerut yang tak akan kembali walau sudah diolesi kosmetik pencerah kulit bermerk sekalipun. “Itu dia…” kata sang Profesor tertahan.
“Prof?”
“Ingat akhir pekan kemarin sebagian Jakarta mati lampu?”
“Ya?”
“Itu saya sedang melakukan uji coba, hingga membuat sebuah gardu meledak, dan uji coba saya berantakan!” terang sang Profesor. “Pasokan listrik di Jakarta tak akan cukup untuk merealisasikan rencana ini.”
“Maksud Profesor?”
“Jika rencana ini dijalankan, maka pada hari pelaksanaan kegiatan, seluruh listrik di Jakarta akan padam, karena semua akan dialirkan ke Gedung Parlemen.”
“Berapa besarnya itu Prof?”
“Sekitar 150 Kilo Volt!”
“Wow! That’s rock!”
Aku melirik si anak magang.
“Susi…” panggil saya pada sekretaris saya yang berambut semakin kucel karena mulai jarang ke salon itu. “Bisa kamu ajak si anak magang ini keluar ruangan?”
Tanpa dua kali permintaan, Susi segera meraih pergelangan tangan si anak magang, lalu menariknya keluar ruangan.
“Kita punya masalah besar, bukan begitu Prof?”
Sang professor mengangguk.
“Masalah kekurangan daya listrik memang tak akan pernah terselesaikan,” kata si Profesor.
“Kenapa?” Tanya saya.
“Karena Pemerintah takut, stok listrik yang berlebihan, akan dipakai oleh rakyat untuk menyetrum diri Pemerintahnya sendiri!”
“Wow! That’s rock, professor!” seru saya. “Di negeri ini, ide yang nyetrum aja bisa dianggap berbahaya.”
***





