Bunuh Diri Massal 2008

...suicide is rocks!

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Catatan Terakhir Sang Ketua

E-mail Print PDF

22 September 2008.

Saya memilih tanggal itu. Sebagai hari pelaksanaan kegiatan Bunuh Diri Massal 2008. 

Kenapa?

Sederhana, itu hari ulang tahun seorang cewek yang saya cintai. Seorang cewek yang tak pernah tahu bahwa saya mencintainya. Dan, saya ingin mengakhiri hidup saya di hari peringatan kelahirannya.

Kamu tahu kenapa saya menggagas acara ini? Acara bunuh diri massal ini? Karena saya ingin tahu, ketakutan terbesar apa yang membuat seorang manusia tak lagi takut pada mati. Dan jawabannya? Dari hasil seleksi dan meloloskan 999 peserta yang akan lengkap menjadi seribu orang ditambah saya, tak ada satu pun yang berprinsip ‘lebih baik mati jika tak mendapatkan cintanya’.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. The show must go-on.

Walau akhirnya akan mati bersama 999 orang dalam Gedung Parlemen yang megah itu, toh saya tetap merasa sendiri, tetap merasa kesepian.

“Bapak mau teh? Badan bapak bergetar.”

Saya menoleh, itu suara sekretaris kesayangan saya, Susi Similikitty. “Bapak mau saya temani?”

Saya menggeleng.

“Saya sedang menulis catatan terakhir saya sebagai Ketua Panitia Susi, kamu boleh pulang.” Kata saya kemudian.

“Saya akan tetap disini pak, ini hari-hari terakhir sebelum tanggal 22, saya ingin punya banyak waktu lebih bersama bapak.”

Saya tersenyum ke arah Susi.

Sekarang, segala sesuatunya tak lagi bisa dihentikan.

Segala tetek bengek ijin dari kepolisian hingga pengurus kelurahan sudah dikantongi panitia. Setiap hari, stasiun-stasiun televisi menayangkan satu demi satu profil peserta. Mulai dari latar belakang mereka, hingga niatan bunuh dirinya. Rating setiap acara yang menayangkan liputan Bunuh Diri Massal selalu saja mendapat peringkat tertinggi. Hingga suatu hari, sebuah telepon dari petinggi stasiun televisi meminta saya untuk memundurkan acara kegiatan, agar masih tersedia waktu untuk mereka meraup untung sebanyaknya dari iklan.

Tentu saja saya menolak mentah-mentah!

Saya sudah terlanjur kecewa tak menemukan cinta sebagai alasan bunuh diri. Fakta itu saja sebenarnya sudah bisa membuat saya memutuskan untuk menghentikan acara, dan membubarkan kepanitiaan yang saya ketuai. Tapi semua tak semudah itu. Saya tetap ingin mati, demi cinta dalam hati. Dan karena saya takut mati sendiri, maka saya membutuhkan 999 orang menemani saya menghadapi kematian!

Susi Similikitty masuk membawakan secangkir teh hangat untuk saya. Saya menyeruput teh hangat buatan sekretaris saya, lalu memandangi wajahnya untuk menambah rasa manis teh.

“Apa rencanamu setelah tak lagi bekerja disini, Susi?” Tanya saya. Gadis itu menggeleng.

“Saya belum tahu pak.” Jawab Susi datar, “Mungkin saya akan pulang ke kampung dan bercocok tanam!”

“Bercocok tanam?!”

“Hahaha, itu becanda pak.”

“Oh, sialan kamu!”

Sejenak, terjadi jeda yang canggung.

“Kamu cantik Susi, kenapa kamu nggak menikah saja?” Tanya saya kemudian.

“Bapak, kenapa bapak tidak membatalkan acara ini saja?!” tiba-tiba suara Susi meninggi, setengah histeris. Pertanyaan basa-basi, dijawab dengan pertanyaan serius. Mati terkejut saya. Setetes airmata, keluar dari sudut mata kiri Susi. Saya terdiam dan memandangi sekretaris saya yang aselinya, sesuai KTP hanya memiliki deret empat huruf dalam namanya; SUSI. Tapi ibukota yang absurd, membuatnya harus tampak keren, dia menambahkan namanya dengan SIMILIKITTY sebagai nama panggung.

“Kenapa kamu berkata begitu?” Tanya saya. Susi menunduk, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menangis sesenggukan.

“Saya nggak tahu pak,” jawab Susi dengan terus menunduk. “Mungkin, saya tiba-tiba merasa takut kehilangan bapak.”

“Kenapa kamu tiba-tiba merasa takut kehilangan saya?”

“Karena…” suara Susi tertahan. “Karena bapak baik sama saya.”

“Hahaha…”

“Karena, dari seribu orang yang akan mati besok, hanya bapak yang menjalaninya karena cinta.” Lanjut Susi.

*

 

Cinta?

Susi, cinta itu absurd.

“Kamu tahu siapa yang saya cintai Susi?”

Susi menatap saya.

“Saya mencintai diri saya sendiri, Susi.” Kata saya kemudian, membuat Susi berhenti menangis sesenggukan.

“Setelah 22 September, saya akan dikenal sebagai martir.” Kata saya dengan tegas dan berwibawa. “Sebagai penggagas.” Lanjut saya mantap. “Dan orang-orang akan mengingatnya.”

Susi memandang saya dengan sorot mata berbinar.

“Saya berharap, kamu mau melakukan satu lagi pekerjaan sebagai sekretaris saya, walau pun saya sudah mati Susi. Sebelum kamu kembali ke kampung dan bercocok tanam tentunya, hahaha.”

“Saya akan melakukannya, Pak.” Jawab Susi tegas sekali. Saya memandangi sekretaris saya itu. Mata Susi tampak bersemangat menunggu kata-kata saya selanjutnya.

“Saya mau…” kata saya, “Ketika saya telah mati nanti, kamu meminta dokter untuk mengambil hati saya…”

“Lalu…”

“Sebentar,” kata saya seraya mengangkat tangan. “Kamu bawa hati saya dan bungkus lah sebagai kado. Taruh di dalam kotak yang mahal, beralas kain sutera, dan ikat dengan pita.”

“Kado?”

“Hati saya menjadi sebuah kado ulang tahun.”

Susi terperangah.

“Kamu mengerti Susi?”

“I.. iya pak, saya paham.”

“Antarkan pada hari itu juga ya,  22 September itu hari ulang tahunnya.” Kata saya kemudian.

“Ulang tahun siapa pak?”

Saya tersenyum. “Susi yang baik, kamu kan sekretaris kesayanganku, kamu tidak saja cantik, tapi juga pinter…”

“Oh, maksudnya, kado itu buat saya?”

“Bukaaaaaannnn!!!” potong saya cepat.

“Ah, bukan saya, sudah GR aja saya pak. Lagian 22 September bukan ulang tahun saya juga pak.”

“Bukan, bukan untuk kamu Susi.” Kata saya buru-buru, “Kamu cukup menjadi sekretaris saya, membuat saya sukses mati bersama 999 orang lainnya dan mengantarkan hati saya nantinya.”

“Iya, tapi diantar kemana pak?”

“Dia artis nomor satu di Indonesia ini, pada hari itu, 22 September, kamu pasti akan dengan mudah mengetahuinya.” Jawab saya. “Dia artis terkenal, dia bintang papan atas, dan saya membutuhkan sesuatu yang besar untuk membuatnya menoleh kearah saya.”

Susi mendengarkan.

“Infotainmen pasti akan memberitakan hari ulang tahunnya, sementara acara berita serius akan memberitakan tentang acara kematian saya. Jadi hati saya akan berada sejajar dengan hatinya.”

“Baiklah pak.” Kata Susi. “Saya akan pamit pulang sekarang.” Lanjutnya seraya bangkit dari kursi dan hendak melangkah keluar ruangan saya.

“Oiya, satu hal lagi.”

Langkah Susi terhenti.

“Pastikan di sebelah saya, duduk seorang peserta yang bernama Jojo itu. Saya membutuhkan enerjinya untuk menambah keberanian saya menghadapi maut.”

Susi pun mengangguk.

*

Susi telah menghilang dibalik pintu.

Sekarang tinggal saya sendirian.

Siapa saya?

Saya Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2008. Saya dihujat dan saya dipuji. Tapi saya tak peduli. Semua demi sebuah kado ulang tahun yang tak ada duanya di dunia ini. Setelah catatan terakhir saya ini, saya akan berada dalam Gedung Parlemen, memandang patung kayu Garuda Pancasila yang kaku, dan menekan tombol sengatan listrik tepat pukul 10 pagi.

Setelah saya menulis ini, saya tak akan bisa lagi menceritakan apa yang terjadi. Semoga seseorang menuliskan peristiwa bersejarah itu kepada kalian semua.

22 September.

Saya akan mati ditemani 999 orang peserta Bunuh Diri Massal.

Dan hati saya akan diantarkan oleh Susi, sebagai kado ulang tahun untuknya.

22 September.

Hatiku selamanya, untuk sang cinta terpendam.

Kubiarkan kumengikuti, suara dalam hati yang selalu membunyikan cinta...

***