by Arini Purwono
Saya pernah punya khayalan, tentang sebuah hidup yang indah. Sebentar, indah bukan kata yang tepat. Coba saya ulangi.
Saya pernah punya khayalan, tentang sebuah hidup di mana saya bisa melangkah keluar rumah tanpa perlu menghindar dari lemparan botol alkohol ayah saya dan berada di sekolah tanpa mendengar caci maki anak-anak yang terlalu banyak makan duit orangtuanya dan berhasil sampai di rumah tanpa memar-memar hadiah preman kampung sebelah setelah kerja sambilan di toko bangunan Koh Tanwin.
Ya, saya pernah punya khayalan-
"Sadya?"
"Ya, Bu?"
Saya tersentak kembali ke dalam ruang kelas berisi dua puluh empat meja yang masing-masing diisi dua murid ini. Penuh dengan empat puluh lebih badan manusia dan pengap karena dari masing-masing ketiak mereka keluar bau masam tidak sedap yang hinggap di indera penciuman satu sama lain. Ibu-guru-baru-yang-saya-lupa-namanya itu menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengetuk-ngetuk penggarisnya di papan tulis.
"Bisa jawab pertanyaan ibu barusan?"
"Emang pertanyaannya apa, Bu?"
Pertanyaan balik saya mengundang teriakan Wuuu! dari delapan arah mata angin.
"Siapa pemuda yang menghancurkan gudang mesiu Belanda di Dayeuh Kolot?"
"Hah? Yang pasti bukan saya, Bu."
Kini bukan hanya teriakan tapi segala macam alat tulis mampir di kepala saya.
"Si-dha-sa-dya..." Ibu-guru-baru-yang-saya-lupa-namanya itu mengucapkan nama saya dengan perlahan, mengambil waktu di stiap penggalan suku kata, mungkin dirudung serta rasa ingin memenggal kepala saya. Mengecek apa Sat Sidhasadya Putrama ini punya otak apa tidak.
Saya berdiri, mengambil tas ransel buluk saya, dan berjalan keluar kelas."Sadya! Siapa suruh kamu keluar kelas!" berkoak di telinga saya namun biarlah.Langkah kaki saya menyapa sepinya koridor ini. Jendela-jendela, pintu-pintu, dinding-dinding tua yang sudah mulai bobrok dan terkelupas catnya. Kira-kira lebih muak siapa dengan dunia, saya.. atau mereka?
Ah, lima hari lagi.
Saya keluarkan rokok dan lighter dari celana seragam abu-abu saya, tak lama kemudian asap kecil telah membumbung di udara sekitar saya. Haha, seperti lirik lagu anak kecil itu saja. Itulah kapal api yang sedang berlayar, asapnya yang putih membumbung di udara..
Lima hari lagi, saya yang akan berlayar dan nyawa saya akan membumbung di udara.
***
Saya mengetahui acara itu dari teman saya. Ketika itu saya sedang mengunjungi warnetnya di mana ia sedang heboh-hebohnya ngobrol dengan beberapa orang mengenai acara itu. Bunuh Diri Massal 2008. Sebuah namaevent yang cukup provokatif. Awalnya saya pikir, ah mana ada orang yang berani bikin acara begituan. Semakin tolol saja orang Indonesia di mata dunia nanti.
Namun kemudian saya tiba di rumah, disambut dengan suara teriakan mabuk ayah saya dan jeritan ibu saya dan pecahan serta bantingan saya-tak-tahu-apa. Lalu saya berpikir lagi, mungkin justru orang yang membuat acara itu adalah orang paling cerdas di tanah air kita tercinta ini. Hei, dia memberi sekian ribu orang jawaban atas hidup mereka. Dia memberi saya jawaban atas hidup saya.
Maka saya ambil secarik kertas dan mulai menulis.
Nama : (mudah..) Sidhasadya
Alasan :
Saya butuh waktu agak lama untuk menulis alasan saya mengikuti acara tersebut. Menulis kisah hidup saya tidak akan terlihat keren di mata Ketua Panitia BDM 2008 itu nanti. Saya butuh alasan yang singkat, padat, dan jelas. Sat Sidhasadya Putrama, apa alasan bagi kamu untuk mati?
Mendengar diri saya berkata keras-keras, tiba-tiba semua tampak begitu jelas.
Alasan : Tentu saja karena takdir. Apalah arti sebuah nama? Untuk saya, nama ini penting. Sidha berarti mati. Saya sedia mati.
***
Lain halnya dengan orang-orang yang mengenal saya di luar rumah, ibu dan ayah saya selalu memanggil saya dengan nama Sidha. Apa-apa, Sidha, Sidha. Lempar ini, lempar itu. Banting ini, banting itu. Mati, mati. Mengikuti acara ini sama saja dengan memenuhi keinginan kedua orangtua saya. Tidak perlu jadi sarjana, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup dengan bunuh diri. Cukup dengan mati.
"Sadya!"
Suara perempuan, diikuti derap kaki berlari menuju ke arah saya. Ah, Riani. Dia lagi, dia lagi. Segera saya buang dan injak puntung rokok terakhir yang saya miliki.
"Ada apa?"
"Kamu.. Saya lihat TV kemarin, saya lihat nama kamu disebut-sebut ketika acara itu dibicarakan. Kamu nggak ikut beneran kan, Sad? Itu yang bikin acara pasti orang gila!"
Saya tersenyum melihat wajah polosnya yang murni diliputi kecemasan. Saya harap malaikat yang menjemput saya nanti memakai topeng wajah Riani, agar saya dengan senang hati menggenggam tangannya, pergi dari sini.
"Kamu nggak bakal ngerti, Ri. Tapi nggak apa-apa, lebih baik begini. Lebih baik kamu inget saya sebagai orang bodoh yang mati bunuh diri."
Saya ambil langkah maju, menjauhi sosok bidadari ini, menjauh agar tidak lebih terasa sakit lagi.
"Tapi saya sayang kamu, Sad."
Semoga Riani tahu di balik punggung ini saya tersenyum kepadanya. Sebuah senyum perpisahan dalam sebuah lega.
***
"Sidha! Kamu mau bunuh diri?! Ibu baru tahu dari tetangga-tetangga sebelah barusan! Kamu benar mau ikutan bunuh diri rame-rame itu?!"
Kalender robekan di dinding ruang tamu yang berteriak, "Tujuh belas September!", ingin rasanya saya cabik-cabik hingga tertera angka dua puluh dua di atasnya.
"Iya, Bu." jawab saya singkat, mencari-cari letak pintu kamar saya. Ingin cepat tidur rasanya, biar cepat berganti hari, biar cepat waktu berlari.
Tangan saya sudah menggenggam kenop pintu. Ketika ibu saya kembali buka suara.
"Memang kamu punya nyali? Anak umur enam belas tahun tahu apa tentang mati."
Tidak, ibu saya tidak perlu tahu bahwa di balik punggung ini saya tersenyum kepadanya. Sebuah senyum perpisahan dalam sebuah lega.
Lima. Hari. Lagi.
Nama karakter SIDHASADYA muncul pada Episode 4 Bunuh Diri Massal 2008,
seri lengkap dapat dibaca di bdm2008.everybodylovesirene.com





