Bunuh Diri Massal 2008

...suicide is rocks!

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
E-mail Print PDF

by Aditya Imanuddin

 

Rusak. Kota ini. Negeri ini. Dunia ini.

Berita di televisi sama dengan berita buruk. Musibah. Perang. Perselisihan. Bencana. Gosip. Gosip. Gosip. Sampai lemah. Sampai lelah.

Pengguna jalan yang selalu menyetir dengan agresif. Tak mau kalah. Heran. Ngasih lewat aja susah, apalagi ngasih duit?

Pembesar negara bisa berkelit cuci tangan setelah menenggelamkan satu desa dengan kotornya lumpur. Di mana hati nurani?

Belum lagi, wakil rakyat yang kerjanya main wanita, korupsi, main wanita, korupsi, lalu membuat undang-undang yang tidak penting. Terlalu pintar? Lelah memutar otak, hilang akal pikiran. Betapa hebatnya.

Belum lagi, organisasi massa tiba-tiba jadi penegak peraturan. Ego yang meluap, memaksakan kehendak.

Belum lagi, penegak hukum yang kerjanya cari-cari kesalahan untuk cari makan lebih.

Aneh, ya? Tak ada lagi benar. Tak ada lagi salah.

Ah, dan yang paling sederhana:

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRGHHHHH!

Semuanya tidak masuk di akal!

Saya sudah muak hidup di dunia yang seperti ini. Saya tidak pernah bisa mengerti, apa yang ada di pikiran manusia-manusia lokal. Sampai bertanya-tanya sendiri, “Apakah benar mereka yang salah? Ataukah ternyata saya yang gila?”

Ah, tidak. Saya yakin, saya tidak gila. Merekalah yang salah! Dunia ini sudah rusak, dan negeri tempat saya tinggal ini adalah pusatnya, porosnya. Tempat segala rusak menjadi semakin rusak.

Ibarat sedang bermain Lego. Salah fondasinya dari awal. Satu-satunya jalan untuk memperbaiki Lego yang rusak itu adalah, dengan menghancurkannya, dan membangun ulang dari awal.

Ironisnya, rasa muak ini membuat saya mencipta puisi. Di suatu siang yang teramat penat, muncul rangkaian kata di otak saya, menari dengan begitu menggoda, meminta untuk dituang melalui pena.

Yes we know that our earth is sick

And we're desperately trying to cure it

So let’s just drop something atomic

as an action to clean it

 

Then the world will soon come to its end

But we'll still be together holding hands

Being the new Adam & Eve

In the sunset of the New Year’s Eve

 

We'll build a new world of Utopia

Where there will be no hysteria

Of thinking how the world will vanish

Like how it was on the Atlantis

 

There will be no Benny & fascist

nor the likes of Adolf the racist

We'll build the world that Lennon imagine

The world that full with Gibran’s limb

 

Now we know that our earth is sick

And we can do nothing to cure it

So Lets just drop something atomic

Maybe it'll help to pure it

 

We're  gonna make a new place of us

We're gonna build something that we trust

But we need an Armageddon first

Big big bang the answer is!

 

 

Dan ketika itu, saya terpana sendiri. Saya, yang tidak pernah bisa menulis sebelumnya. Saya, yang selalu gagal dan mengalami kebuntuan ketika hendak menulis puisi cinta. Tiba-tiba, menulis untuk pertama kalinya, dan dengan sangat lancar. Bukan karena cinta, tetapi karena benci…

Saya anggap puisi ini sebagai wangsit. Saya namakan tulisan ini, The Big Bang Prophecy, karena isinya tentang kehancuran dunia. Ya, ini bukan Big Bang yang merupakan teori terbentuknya dunia. Tetapi justru sebaliknya, menceritakan kehancuran dunia. Bukan sekedar kehancuran biasa,tapi hancur untuk dibangun ulang. The End, is the beginning.

Ketika saya meliat iklan acara “Bunuh Diri Massal 2008” di televisi, saya hanya tersenyum sinis. Karena heran. Ada saja orang bodoh yang mengakhiri hidupnya sendiri saja harus mengajak-ajak banyak orang. Karena heran. Ada saja orang yang mau ikut-ikutan orang bodoh itu, bahkan ribuan!

“Memang sudah rusak benar dunia ini!”, pikir saya saat itu.

Awalnya saya memang mencibir, tapi kemudian, saya tersentak. Sama seperti saat saya tiba-tiba menulis puisi kehancuran itu. Tiba-tiba mendengar suatu bisikan, mengucap kata yang berterbangan di otak, suatu ide yang brilian, seolah hendak berkata, “Inilah saatnya!”

Inilah saatnya mewujudkan ramalan kehancuran tersebut. Menghancurkan satu kota tentu tidaklah mudah, apalagi satu negara, atau bahkan seluruh dunia ini. Tidak semudah di serial Heroes yang tinggal menunggu Peter Petrelli untuk meledak. “Bunuh diri massal inilah jawabannya!” Bisikan itu bersuara.

Ya. Inilah langkah awal menuju kehancuran. “A long journey always start with one step.” Seribu nyawa dulu sebagai langkah awal. Sisanya belakangan. Nanti akan saya pikirkan lagi bagaimana cara melenyapkan sisa manusia di dunia. Mungkin dengan membuat bom nuklir? Saya rasa itu bisa dipelajari. Atau mungkin bergabung dengan kelompok teroris ekstrimis itu. Ah, gampanglah itu. Nanti juga pasti saya akan dapat wangsit lagi!

Dari yang saya lihat sekarang, di surat kabar, di media massa lain, tampaknya acara ini populer sekali. Peminatnya banyak sekali, lebih dari ribuan! “Bunuh Diri Massal 2008” ini akan menjadi yang pertama. Dan saya, tentu saja akan melanjutkannya.

Oh, tidak, tidak. Saya tidak akan ikut bunuh diri seperti si ketua panitia bodoh itu. Saya akan mencari orang bodoh lain yang ingin menjadi ketua bunuh diri massal selanjutnya, lalu saya sponsori dan gerakkan dari belakang. Kalau perlu, akan saya buat acara “Bunuh Diri Massal” ini menjadi acara reality show rutin, seperti Indonesian Idol, yang lalu franchisenya akan dibeli oleh TV-TV dari negara lain dan akhirnya seluruh dunia terjangkit wabah “Bunuh Diri Massal”.

Lama kelamaan, penduduk dunia ini akan menjadi semakin sedikit, sangat sedikit, lebih sedikit dan lebih sedikit lagi. Hingga akhirnya, lebih mudah untuk memusnahkan seluruh manusia di muka bumi ini. Caranya bagaimana? Yah, kan saya sudah bilang tadi... Itu nanti saja dipikirkannya, nanti juga saya dapat wangsit lagi. Yang jelas, sekarang semuanya sudah bisa dimulai dengan memaksimalkan acara “Bunuh Diri Massal” ini seperti yang telah saya katakan sebelumnya.

Maka mulailah saya menjalankan rencana ini, saya ubah puisi kehancuran tersebut menjadi sebuah lagu, lagu yang akan saya nyanyikan sendiri. Lagu yang menghanyutkan, yang cocok menjadi lagu pengantar mereka untuk bunuh diri.

Tapi, saya tidak mau bertemu si ketua Bunuh Diri Massal itu. Saya tidak mau muncul di depan mereka. Tidak mau! Bagi saya itu tabu. Saya mau seperti tokoh penjahat di film-film, yang tak pernah diketahui wajahnya hingga akhir cerita. Oleh sebab itu, saya mengutus “dia” untuk menyerahkan lagu ini kepada mereka. “Dia” yang mengisi backing vocal di lagu kehancuran ini. “Dia” yang selalu menjadi belahan jiwa saya.”Dia”,satu-satunya orang yang bisa mengerti saya, yang kelak bersama saya akan menjadi orang terakhir yang hidup di Bumi ini, menjadi Adam dan Hawa yang baru.

Dia…

Irene.


Note:

Gambar ilustrasi di atas adalah something special. Saya mencarinya di Getty Images, dan menemukan gambar tersebut. Ketika saya membaca deskripsinya...