by Adry Boim - jurnalis Majalah Hai
Ah sudah hampir dua minggu ini saya berkutat dengan laptop di kamar. Hampir tidak ada pergerakan. Menghabiskan pagi, siang, sore malam, sampai dini hari di depan monitor putih yang bersinar redup. Frekeunsi saya di luar rumah sekarang terhitung jari. Paling cuma tiga sampai empat jam. Sepuluh, dua puluh jam sisanya saya habiskan dengan menghentakkan jari saya di atas tuts-tuts putih ini.
Tapi satu hari, dua hari, satu minggu dan ini sudah minggu kedua hanya satu lembar. Tidak ada kemajuan. Bangun tidur mempebaiki susunan kalimatnya pertama, nanti siang merevisi kalimat pembukanya, nanti setelah ba’da Isya saya sibuk memperpanjang kalimat di bagian tengahnya.
Bukan, bukan karena saya bodoh. Saya merasa saya cukup pintar untuk sekadar merangkai kata. Cuma entah kenapa saya sedang tidak berada di lembaran itu. Pikiran saya saat ini sedang tidak seputih tuts keyboard ini, saya sedang gelap. Hampir gelap gulita.
Bukan, saya bukan baru bergabung dengan aliran sesat. Saya tidak ikut sekte penyembah pohon, apalagi percaya sama dukun. Soal kepercayaan rasanya lempeng-lempeng saja. Walaupun pegawai kelurahan terlalu lalai sampai tidak mencantumkan agama pilihan saya pada KTP yang dirilis 4 tahun lalu, saya tetap punya keyakinan dan mencoba tidak percaya dengan semua hal mistis.
Tapi kenapa saya merasa sedang diselimuti awan gelap?
Kalau boleh saya menerka, ini karena saya terlalu banyak menghabiskan waktu dengan orang-orang.
Beberapa hari lalu, seorang kawan yang sudah cukup umur sempat berbincang dengan saya. Dia mencurahkan isi hatinya tentang alasannya masih melajang. Dia mengajari. Ya, dengan kalimatnya yang sangat menyerang dia memberi tahu alasan tentang mengapa dia sebegitu picky-nya menentukan wanita pujaan hati.
Ayah saya juga salah orang yang terlampau sering berbicara dengan saya. Karena saban kali saya menumpang mobilnya, dia selalu berkata begini: “Apa rencana kamu selanjutnya?”, “Mau jadi apa kamu lima tahun lagi?”
Setelah itu dia akan bercerita soal hidup, tentunya lewat kacamatanya. Selalu begitu, berulang selama hampir dua tahun, semenjak mobil saya dia jual, untuk membayar kontrakan tokonya.
Belum lagi teman-teman SMA saya. Terlalu banyak saya berbicara dengan mereka semua. Terlalu banyak kekonyolan dan mimpi-mimpi liar yang mereka janjikan saban kami menghisap filter di tempat wudhu.
Ah, saya tidak mampu mengingat kapan pertama kalinya saya bisa berkomunikasi dengan orang lain. Tapi yang penting saya ingat kapan saya terakhir kalinya berbincang.
Dua malam lalu, seorang perempuan yang sudah lama saya kenal berbincang cukup banyak. Ah, saya merasa dalam kalimat-kalimat yang dia utarakan terlampau banyak opini. Dia berbicara kesana-kemari, sampai-sampai dia menasihati saya perihal pilihan hidup. Termasuk kebiasaan saya menghabiskan hampir dua puluh jam di depan laptop. Saya akui beberapa ucapannya terdengar manis. Tapi itu tidak membuat saya terlena. Kalimatnya-kalimatnya membuat saya semakin tersesat.
Sebenarnya sekarang apa yang saya cari?
Satu kata: Ketenangan. Hanya itu. Saya tidak mau mendengar omongan orang lain. Mereka terlalu memaksakan kehidupan mereka ke dalam hidup saya.
Saya bukan mereka. Saya bukan kamu. Kamu juga bukan saya. Saya adalah saya. Saya juga telah berhenti memutar musik di iTunes. Ah cukup sudah mendengarkan masukan dari seorang John Mayer ketika dia menyanyikan I Don’t Trust Myself (With Loving You), Mika yang telalu naïf mencoba menenangkan saya dengan bernyanyi , Relax Take it Easy. Cukup semua sudah cukup!
Belakangan ini saya memasang tanda stepped out di Yahoo Messenger , saya hanya ingin tenang. Saya hanya ingin memantau kalian. Sudah cukup kalian mengggangu saya!
Sampai tadi seorang kawan memasang status bertuliskan Pendaftaran Bunuh Diri Massal 2008. Satu, dua, tiga, empat jam. Saya sama sekali tidak tergoda. Tapi di jam ke enam, rasa pensaran saya mencapai puncaknya. Saya membacanya sekilas saja. Yang penting saya tau maknanya, mati.
Ya. Mati. Ini nampaknya awan terang saya. Disaat saya tidak lagi mendengarkan sekeliling saya sudah sepantasnya mati. Ini yang selama ini saya cari. Ini yang selama ini hampir tidak pernah disinggung oleh mereka semua. Ini yang saya cari. Saya tidak peduli dengan pendapat mereka semua, tidak mau lagi saya mendengar opini peserta. Saya hanya ingin mati.
Di kertas itu saya menulis begini:
Nama: Abdiyanto
Alasan:
Saya tidak bisa hidup tenang karena terlampau diracuni pikiran orang-orang disekitar saya. Tapi belakangan saya mulai tidak berinteraksi. Sudah cukup. Saya berharap. Saya mampu bertahan sampai tanggal 22 nanti untuk sekadar mati dengan tenang.
nb: Kalau ingin mengirimkan surat balasan tidak perlu berpanjang lebar. Saya tidak mau membacanya. Cukup tuliskan tanggal, hari dan tempat pelaksanaannya. Teknis pelaksanaan bunuh diri massal itu tidak perlu saya ketahui. Karena itu hanya akan meracuni pikiran saya saja.





