Bunuh Diri Massal 2008

...suicide is rocks!

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
E-mail Print PDF

Andra Dharmawan adalah sepupu saya, kami satu kakek, Sentot Sjamsoewirjo. Tapi nama kakek terpasang resmi dalam nama Andra, di akta kelahiran, paspor maupun KTP dan kartu-kartu kredit dalam dompetnya. Dulu kami bermimpi mendirikan firma hukum bersama-sama. Kini, dia bekerja sebagai legal di sebuah perusahaan besar, dan saya memilih jalan saya sendiri. Kisah ini, adalah salah satu wujud ketidaksetujuannya pada saya yang selalu kalah, yang menurutnya selalu 'mendramatisasi cinta'.

____________________


Aku meremas kuat-kuat gagang kayu yang kupegang.

Jantungku berdebar. Itu mereka, itu mereka berempat. Aku tahu benar siapa wanita itu, wajahnya aku lihat di halaman muka tabloid infotainmen yang dijajakan para loper di bawah patung Pancoran pagi tadi. Dia si sekretaris terkenal itu, Susi… siapa namanya? Susi Seksisekali itu pokoknya.. Atau Susi Sekalikaliseksi ya? Ya dia!



Mataku tanpa sadar mengikuti rombongan kecil itu, yang berlari-lari kecil itu, anak kecil bertopi itu, dengan kaos bertuliskan SuicidE Roker! Itu pasti si anak magang yang bekerja di secretariat. Laki-laki muda berkaos dengan mimik muka pemadat yang melangkah lemas itu aku tak tahu namanya, tapi lelaki berkacamata hitam, berkemeja biru itu pasti dia!



Dan dia melangkah kemari, lepas dari rombongan kecilnya, melangkah menuju kearahku. Aku pura-pura kembali mengepel lantai, lantai-lantai disini, di kantor ini, harus selalu mengkilat, karena setiap pagi, sepatu-sepatu mahal produksi luar negeri selalu lewat sini, sepatu berharga puluhan kali lipat dari upah harian yang kuterima setiap bulan itu membungkus kaki-kaki mulia para anggota dewan yang terhormat.



“Maaf,” terdengar sebuah suara, sangat dekat ditelingaku. Ya Tuhan, kapan terakhir kali telingaku yang penuh dengan cairan kuning kotoran ini mendengar kata ‘maaf’. Tak pernah satu orang pun meminta maaf kepadaku. Aku tak berani mengangkat wajahku, tak berani aku melihat wajah orang yang berkata ‘maaf’ padaku itu.



“Maaf, pak.”

“Ya?” balasku seraya menatap lekat-lekat lantai marmer yang basah, tanganku terus bergerak.

“Maaf, mengganggu, saya mau tanya, gimana caranya supaya saya bisa masuk ke gedung ini?”

“Gedung ini?” tanyaku.

“Ya, gedung wakil rakyat ini.”

“Tidak-tidak,” kataku cepat, secepat gosokan kain pel yang kugerakkan dengan tanganku kesana kemari. “Tidak seorang pun berhak masuk ke dalam gedung itu kecuali mereka.”

“Mereka? Mereka siapa pak?”

“Mereka, para anggota dewan yang terhormat.”

“Oh ya, mereka.” Kata lelaki yang berdiri sangat dekat denganku itu. “Tapi saya harus masuk ke gedung itu hari ini pak, saya mau melakukan survey untuk sebuah kegiatan…”

“Ya, saya tahu kegiatan itu…”

“Bapak tahu?”

“Semua orang disini membicarakannya.”

“Oh ya?”

“Iya, ada yang mendukung, dan ada yang tidak,” kataku, masih dengan kepala menunduk. “Ada yang ingin ikut, ada yang takut.”

“Kalau bapak tahu kepentingan saya kemari untuk kegiatan itu, sekarang tolong saya supaya saya bisa masuk ke gedung itu. Gimana pak?”

Aku menggeleng kuat-kuat. “Tidak-tidak, tidak ada satu pun yang boleh masuk ke dalam gedung itu. Gedung itu hanya untuk mereka,”

“Yeah, mereka ya, para anggota dewan yang terhormat ya?”

Aku mengangguk.



“Tapi gedung itu rumah rakyat, dan kami ini rakyat yang mau melakukan kegiatan disana…”

“Anda salah!” kataku tegas, sekarang aku mendongak dan memandang ke arah mata dibalik kacamata hitamnya. “Itu gedung terhormat, gedung wakil rakyat!”

“Tapi saya hendak menggelar kegiatan besar disana.”

“Loh, saya kira…?”

“Gimana sih Pak? Tadi katanya bapak tahu, disana akan digelar kegiatan apa tanggal 22 September nanti.”

“Iya saya tahu.”

“Nah kalau begitu, bisa dibukakan pintu kacanya supaya saya dan panitia yang lain bisa masuk ke dalam.”

“Sebentar…” aku berusaha menahan, dan berpikir keras.

“Apalagi yang belum jelas?”

“Saya pikir…” dan aku memang masih dalam keadaan berpikir keras, aduh, sudah lama aku tak berpikir. Aku hanya mengepel marmer, tak perlu berpikir untuk melakukannya, “Saya kira, karena yang menjadi peserta bunuh diri itu rakyat…”

“Iya, memang saya, dan peserta lainnya memang benar-benar rakyat!” suara dia meninggi, menyela dan memekakkan telingaku.

“Nah itu dia…” sahutku cepat.

“Bapak ini kayak sinetron tengah malam deh, Nah ini dia, apaan?”

“Saya kira, karena peserta bunuh diri massal itu rakyat, dan digelar di gedung perwakilan rakyat, maka…”

“Maka apa?”

“Maka para wakil rakyat lah yang akan mewakili kalian.”

“Wakil rakyat yang akan mewakili kami mati bunuh diri?”

“Iya.” Aku menatapnya. Dan dia tertawa keras sekali!



Hahahahaha.

Hahahahahahaha.



“Tidak-tidak-tidak.”

“Tidak?”

“Ya, tidak mungkin wakil rakyat mewakili kami untuk mati bunuh diri.”

“Tidak mungkin?”

“Bagaimana mungkin?”

“Bagaimana mungkin?”

“Ya, apa mereka pernah mewakili rakyat?”

“Tapi mereka wakil rakyat. Namanya saja begitu, WAKIL RAKYAT.”

“Memang, tapi kenyataannya, mereka MEWAKILI RAKYAT untuk hidup enak, dan rakyat MEWAKILI MEREKA untuk hidup susah.”

“Jadi saling WAKIL mewakili?”

“Ya, begitulah.”

“Jadi, kalian, para peserta Bunuh Diri Massal itu, adalah rakyat yang MEWAKILI para WAKIL RAKYAT untuk bunuh diri?”

Dia tertawa lagi.



Hahahahaha.

Hahahahahahahaha.



Aduh, aku mulai merasakan pusing.

Hidupku sudah tenang, setiap hari aku mengepel gedung wakil rakyat, menjaga agar marmer rumah rakyat itu selalu mengkilat. Mimpi apa aku semalam hingga hari ini bertemu dengan dia, laki-laki berkacamata hitam ini.



“Jadi saya bisa masuk ke gedung rakyat itu sekarang?”

“Tidak-tidak-tidak.” Kataku cepat.

“Kenapa lagi?”

“Karena, itu gedung wakil rakyat.”

“Itu saya tahu, tapi kami adalah rakyat yang tidak perlu diwakili.”

“Tidak-tidak-tidak.” Kataku lagi, “Namanya saja sudah gedung wakil rakyat, mereka yang berhak duduk disana, adalah untuk mewakili.”

Dia terdiam. Sementara aku, semakin berani.

“Kalian semua, peserta Bunuh Diri Massal, apakah mewakili sesuatu hingga merasa berhak untuk duduk disana?”

“Tidak, kami tidak mewakili apapun, kami punya alasan mati sendiri-sendiri, tapi dengan cara yang sama; bunuh diri bersama-sama.” Dia menjawab.

“Kalau begitu, untuk apa saya mengepel lantai ini setiap hari, dan membukakan pintu kaca gedung itu untuk orang yang sama dengan para anggota dewan yang terhormat itu.”

“Maksudnya?”

“Saudara tahu?”

“Jelaskan.”

“Gaji saya disini, tak cukup untuk menghidupi saya dan keluarga, hanya upah kontrak harian, saudara tahu itu?”

“Tidak.”

“Tapi saya tetap mengepel lantai gedung rakyat ini dengan sepenuh hati. Menjaga marmernya agar selalu mengkilat, saudara tahu itu?”

“Saya bisa lihat bapak menggenggam alat pel.”

“Saya ikhlas melakukan ini, mengepel ini, tapi saya melakukannya, menggosokkan kain pel ke lantainya, dengan penuh harap…” aku berusaha mengumpulkan nafas, dan melanjutkan kata-kataku lagi, “Pada setiap gosokan kain pel ini ke marmer, saya selalu berdoa, agar suatu hari, lantai marmer ini benar-benar mengkilat saat seorang wakil rakyat sejati, benar-benar datang kemari.”



Dia tak lagi tertawa.

Aku tak mendengar suara tawanya. Jadi kuteruskan kata-kataku.

“Jadi untuk apa saya membukakan pintu gedung parlemen itu untuk Anda?”

“Karena saya rakyat, saya hendak mempersiapkan bunuh diri massal disana.”

“Untuk apa Anda bunuh diri?” tanyaku, “Anda putus asa?”

“Tidak-tidak, saya bukan putus asa pada hidup, saya mau bunuh diri untuk memberikan hati saya sebagai kado ulang tahun. Mati untuk cinta.”

“Dan peserta yang lain? Mereka hendak mati untuk cinta juga?”

“Saya kira tidak, saya punya daftar alasan mereka semua.”

“Begitu?”
“Ya, kan saya bilang tadi, kami semua peserta punya alasan sendiri-sendiri, kepentingan mati sendiri-sendiri.”



“Kalau begitu, saya tidak akan mengepel marmer ini untuk Anda dan teman-teman Anda, saya juga tidak akan membukakan pintu gedung itu.” Kataku tegas.

“Kenapa bisa begitu? Saya punya ijin dari kepolisian.”

“Karena Anda dan peserta lainnya, sama saja dengan mereka, para anggota dewan yang terhormat itu!” seruku sengit.

“Sama bagaimana? Kami rakyat, mereka wakil rakyat.”

“Sama saja, kalian akan duduk di kursi-kursi di Gedung Wakil Rakyat dengan membawa kepentingan sendiri-sendiri. Sama dengan mereka, mereka yang mengaku wakil rakyat!”

***


side-story by Andra Dharmawan Sjamsoewirjo

Andra tak mengenal blog, tak mengenal facebook, tak mengenal friendster, dia hanya punya email, email yang penuh dengan pekerjaan. Dan kepadanyalah saya selalu berhutang... haha