“Slompret!”
Kenapa sih ga boleh? Padahal saya hanya minta 1 hari saja! Khan saya udah 20 hari mendekam di tempat jorok, pengap dan bau ini..
20 hari lalu
”Maaf pak, bisa ikut kami sebentar”, kata laki-laki berbadan tegap itu, sambil memperlihatkan badge Polisi seperti di film-film action (emang di akademi polisi ga diajarkan cara lain memperlihatkan tanda pengenal yah?)
Oh crap! Tangan saya semakin erat mengenggam pegangan koper dari kulit itu, isinya? Yah palagi kalau bukan ”tanda terimakasih” dari perusahaan yang saya jebolkan tendernya di dalam pengadaan kendaraan dinas untuk wakil-wakil rakyat.
”Lewat sini pak! Anda juga ikut kami!”, saya melirik muka rekan saya yang tadi memindahtangankan koper itu ke tangan saya di dalam kafe yang baru saja kita tinggalkan.
Dia tampak pucat, seperti melihat hantu di siang bolong (Saya sendiri belum pernah lihat hantu, ga pengen juga sih)
500.000 US Dollar dalam bentuk pecahan 100 dollar dan 50 dollar, di dalam koper itu kini sudah berpindah tangan ke tangan polisi itu.. habislah sudah..
15 hari lalu
”KPK Menggeledah Rumah Koruptor Dana Rakyat”, headline koran nasional sudah seperti melodrama picisan seperti di sinetron saja akhir-akhir ini. Namaku terpampang jelas di dalam artikel tersebut. Isi artikelnya? Apalagi kalau bukan: ”KPK menjelaskan penggeledahan tersebut hanya berkaitan dengan pengembangan kasus ini saja. Sang juru bicara juga menjelaskan saat ini tim KPK sedang menyelidiki kemungkinan-kemungkinan adanya temuan baru dalam kasus ini”, terjemahan: Siap-siap diobrak abrik semua anggota keluargamu, dan kenalan-kenalanmu, dan selamat tinggal reputasimu selama-lamanya.
Semua orang di kantor cuci tangan, karena semua hanya mau cari selamat! Slompret! Padahal mereka juga yang akan menikmati hasilnya sedikit banyak. Semua juga dapat bagian, tapi semua sekarang sepakat untuk menjadikan aku kambing hitam di kasus ini
10 hari lalu
Keluarga mulai ”mengamankan” berbagai asset saya. Rumah di Pondok Indah diatas namakan istri saya punya adik ipar. Villa di Cisarua, diatasnamakan saudara istri saya. Rumah di Kelapa Gading dipindahkan menjadi milik adik ipar saya. Semua mobil (saya punya 7 mobil, semua yang di atas Rp500 juta) diatasnamakan anak-anak saya.
Keluarga yang hanya tahu minta duit, kini mulai panik...
Dahulu, anak saya yang bungsu mau naik dari kelas 2 ke kelas 3 SMA saja, perlu sogokan mobil.
Yang sulung apalagi, mau kelarin skripsi-nya yang sudah tertunda 2 tahun aja, perlu liburan dulu ke eropa sama teman-temannya, katanya untuk me-rilex khan pikiran, terus minta beli laptop harga 20 jutaan! Dia tidak tahu apa, hanya wakil rakyat yang bisa pakai laptop seharga segitu, karena belinya juga harus lewat saya!
5 hari lalu
“Pak, saya sudah daftar jadi anggota Bunuh Diri Massal pada september 22 nanti, bapak mau ikutan?” isi SMS anak saya
Sontoloyo! Dasar anak kurang ajar! Slompret! Bukannya bantuin bapaknya keluar dari bui, eh dia malah mau bunuh diri, terus sekarang ngajak-ngajak bapaknya lagi! Terkadang saya berpikir, apakah bayi yang diberi banyak-banyak vitamin dari luar negeri bisa mengakibatkan otak yang terlalu lamban seperti anak bodoh dan mental tempe itu?
Segera saya balas SMS itu buru-buru, sebelum petugas datang dan saya harus kembali meyembunyikan HP selundupan ini di dalam sarung bantal yang sudah kekuning2an, tipis dan bau ini
“Kamu itu! Pikirannya cuma jalan-jalan, mobil, mabok, cewek! Skripsi ga kelar, sekarang mau bunuh diri! Hmm, emang acara apa sih itu?”
Hmm, boleh juga yah acara itu. Aku lebih baik bunuh diri, daripada harus mengikuti sidang yang berlebihan ini, toh ini untuk kebaikan negara bukan? Daripada saya nanti dihukum di penjara, dan menghabiskan uang negara untuk membiayai hidup saya, lebih baik saya akhiri sebelum itu semua terjadi.
Hari ini
Permohonan ijin ditolak! Slompret! Sontoloyo! Itu semua pasti permainan! Saya Cuma minta keluar sebentar tgl 22 nanti untuk ikutan Bunuh Diri Masal!
Pak Ketua BDM! Tolong saya! Saya juga ingin ikut bunuh diri, karena saya udah males, cape, ngadepin dunia dan keluarga saya. Anda khan punya akses ke kepolisian yang memberi ijin itu, anda pasti bisa menolong saya.
Saya bapak dari peserta anda yang nomor 199!
Semoga Blackberry saya ini bisa meng-email cepat ke email si ketua..
***
Side-story BDM 2008
title; Bapak No 199
author; Jeruel Kosasih





