Bunuh Diri Massal 2008

...suicide is rocks!

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
E-mail Print PDF

by Siti Asiah 

 
Dua pekan terakhir, kita membicarakan kematian, Bunuh Diri Massal. Tapi laiknya kehidupan, ada kelahiran, kematian dan jodoh, Sitti Asiah membawa kita berhenti sesaat di dua hari menjelang Bunuh Diri Massal, kita diajaknya menuju pesta perkawinan. Bahkan di Pantai Barat pulau Sumatera, lewat side-story Bunuh Diri Massal pertama yang memasukkan unsur lokalitas kedaerahan ini, Pengantin Padang.

Siti menulis;

Gue termasuk pembaca setia cerbung Bunuh Diri Massal nya Fajar Nugros. Awalnya cuma tergoda untuk kasih comment. Truss makin ke sini makin banyak aja orang yang bikin side story BDM itu. Nah, gue pun tergoda untuk BIKIN juga. Untuk saat ini sih baru bisa bikin segini, ini belom tuntas. So... enjoy. Pengantin Padang #1.

_______



Bagaimana kalau mati? Apa mati menyelesaikan masalah?

Dipaksa kawin, siapa yang mau!!! Kambing? Mungkin kucing? Tapi manusia???

Saya ingin sekali membunuh diri saya sendiri saat itu juga. Laki-laki tambun dengan tatapan mata serigala yang siap menerkam mangsa menyeringai di samping saya, bundo dan ayah yang duduk di seberang kami menatap takjub. Wah… calon menantu ideal, itu pasti pikir mereka. Apa yang bundo dan ayah lihat dari dirinya, sehingga merelakan putri pertamanya untuk dijadikan isteri muda?

“Dia itu datang dari keluarga baik-baik nak. Masih satu suku dengan kita” yang ini alasan Bundo.

“Lulusan Al Azhar Kairo, kariernya sedang menanjak, dan nanti kamu akan dibawa ke Kairo untuk menemaninya melanjutkan S2. Kamu belum pernah keluar negeri khan selama ini?” yang ini alasan ayah.

HAH!!! Apa nggak ada alasan yang lebih klise lagi? Ada himpitan besar menekan dada saya. Rasanya ingin sekali berteriak, memohon pertolongan siapa saja yang bisa mengeluarkan saya dari situasi ini.
Laki-laki itu kembali melirik, dan saat mata kami bertemu dia mengedipkan sebelah matanya.
Sayapun pingsan seketika.

***

Sudah seminggu sejak kejadian naas itu, apa bundo dan ayah merubah pikiran mereka untuk menikahkan aku dengan Arifin, si tambun beristeri satu itu? TIDAK… Kenyataan bahwa usia saya sudah diambang batas akhir dua puluhan, dan sepupu-sepupu perempuan saya sudah mulai dipinang pasangan mereka satu persatu, ditambah lagi prefilage menaikkan gengsi keluarga dengan mendompleng nama Arifin, sepertinya sudah menutup mata hati mereka untuk sekali saja memikirkan perasaan anak gadis pertama mereka.

Sebagai anak pertama dan sialnya perempuan, ayah dan bundo seperti mengalami euforia luar biasa saat menyambut kelahiranku ke dunia ini. Sudah terbayang dalam pikiran mereka membesarkan seorang dokter kandungan yang menikah di usia awal dua puluhan dengan laki-laki pilihan mereka. Praktis saja sejak kecil kehidupanku seperti bis kota yang sudah terarahkan jalur perjalanannya. Masuk SD anu, truss SMP itu, harus lulus masuk SMU ini, ambil penjurusan IPA, pilihan kuliah harus blah dan blah dan blah… Setelah luluspun, mereka yang memilihkan pekerjaan untukku. Lalu sekarang masalah perjodohan ini.

Satu pertanyaan besarku dari dulu. Bagaimana caranya mengakhiri semua otoriter ini?
Mereka seperti NAZI dan aku yahudinya.

Mati, yah… hanya kematian yang bisa melepaskan saya dari belenggu ini.

Kenapa tidak melarikan diri saja dari rumah?
… Ah, lalu dicap anak durhaka dan masuk neraka?

Bagaimana dengan memberontak dan secara lantang mengungkapkan keinginan sendiri?
… hmm, lalu melihat tatapan tak puas mereka, yang seolah berkata aku ini anak tak tahu terimakasih, lalu tetap dianggap anak durhaka, dan tetap masuk neraka.

Apa pula bedanya?

Yah… lebih baik mati lebih cepat saja, toh baik di dunia atau akhirat nanti aku akan tetap mendekam di neraka. Lebih baik sign off saja dari neraka yang ini, siapa tahu Tuhan berubah pikiran, hahaha… sepertinya aku sudah benar-benar gila.

***

Bunuh Diri Massal, khusus LAKI-LAKI? Apa maksudnya ini semua???
Benar-benar! Ego mereka setinggi gunung Himalaya.

“Saya mau daftar!” kata saya pada salah satu panitia.
“Tapi ini khusus laki-laki mbak” jawabnya.
“Saya ini laki-laki”
“Mbak jangan bercanda” katanya sambil melirik pada payudara saya.
“Benar! Saya ini laki-laki!” jawab saya ngotot.

Apa sih perbedaannya? Laki-laki atau perempuan, sama saja bukan? Itu semua hanya simbol. Kalau saya nggak boleh jadi laki-laki, lalu kenapa para waria itu boleh menjadi perempuan? Oh iya, saya lupa, ego pria!!!

“Ini hanya casingnya saja, di dalam sini saya ini laki-laki” saya menghujamkan telunjuk saya ke dada kencang-kencang.

Mereka menatap saya seolah saya sudah gila, tapi mereka memang tidak sepenuhnya salah. Saya mungkin sudah setengah, ah bukan, tiga per empat gila.

Tunggu, apa mereka juga menerima peserta hampir gila?

Tak lama kemudian datanglah ketua mereka, dia ternyata sudah memperhatikan saya sejak tadi. Diajaknya saya ke dalam kantornya. Dia menanyakan saya banyak hal, dan saya menjawabnya dengan bingung. Apa inti dari semua ini? Saya semakin bingung saat lama kemudian dia malah menyodorkan formulir pendaftaran pada saya.

“Saya percaya kalau anda laki-laki”

Saya terdiam, oh… tak ada waktu untuk bertanya-tanya. Sudahlah! mungkin dia juga sudah tiga per empat gila. Saya sambar formulir itu cepat.

Bundo, ayah… kalau kalian masuk surga, tolong tengok anakmu ini sesekali di neraka ya.
Arifin, jangan pernah hubungi saya lagi!!! Bahkan nanti, di neraka!!!

***


Side-story BDM 2008
title; Pengantin Padang #1
author; Siti Asiah