Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman, hadapi perbedaan
Pegang kata-kata lo!
***
Itulah yang tergambar dari aku dan Lalo. Kata orang, kita layaknya sahabat sejati, mirip Edwin & Jody, saling mengisi dan melengkapi katanya. Di mana ada Lalo, di situ ada aku. Rumah Lalo adalah rumahku juga. Aku tahu semua tentang Lalo, bahkan kebiasaan memakan upil dan tato 'Bunda' di atas pantatnya pun aku tahu. Soulmate.
***
"Pegang kata-kata lo!" semburku seraya menoyor kepala Lalo yg botak itu. Kata-kata itu menjadi kunci sebagai pengganti kata "deal" kalau dalam acara Super Deal 1 Milyar, tanda kalau kita setuju akan taruhan yg disebutkan.
Sore itu, aku dan Lalo, dua anak tengil bau kencur, kami melakukan taruhan yang takkan aku lupakan dalam sejarah pertemanan aku dan Lalo.
Taruhan, menjadi ajang pembuktian diri aku dan Lalo yang selalu saja bersaing dalam segala hal. Apapun kami pertaruhkan. Aku kehilangan mobil Kijang kapsulku di kala taruhan siapa yang berani masuk ke WC wanita tanpa menggunakan sehelai benangpun menutupi tubuh kita. Bahkan, Lalo berani dibaptis untuk pindah agama karena kalah taruhan ketika aku berpura-pura menjadi mayat yang lengkap di kafankan dan hendak dikubur, lalu bangkit dan membuat orang-orang berlarian ketakutan.
Bodoh. Itulah yang terlontar dari setiap orang yang kami kenal. Dan kebodohan itu pula yang mendasari taruhanku dan Lalo kali ini.
"Jadi, yang bisa duluan jalan sama Susi Similikitty yang menang!"
Dan kami pun berjabat tangan dengan erat seraya berkata, "Pegang kata-kata lo!"
Sore harinya, aku datang ke kantor Bunuh Diri Massal dengan alasan menawarkan jasa dokumentasi dalam acara Bunuh Diri Massal itu. Setelah tau ternyata sudah ada bagian dokumentasi, akupun berkelit dan mencoba masuk ke inti masalahnya.
"Kalau lowongan untuk dokumentasi udah nggak ada, tapi lowongan untuk ngajak jalan masih ada kan?" Sambil mengeluarkan senyum andalan, senyum yang kata orang seperti senyumnya Mandra waktu mulutnya belom monyong.
"Ada sih, tapi..."
"Kalo begitu yuk, sekalian gue anter pulang aja sekarang." Tanpa basa-basi, aku langsung memotong.
"Hmmm.. Maaf ya, tapi kalo hari ini aku nggak bisa."
"Oke..." Tanpa banyak cing-cong, aku langsung pulang saat itu juga.
Besok sorenya aku kembali datang ke kantor Bunuh Diri Massal. Kali ini, aku menawarkan kaos untuk para peserta Bunuh Diri Massal agar seragam. Seragam? Yup, betul sekali, seragam.
"Kalau anak SD sampai SMA saja bisa seragam kenapa acara ini tidak memakai seragam saja?" pikirku seraya menjawab pertanyaan-pertanyaan Susi.
"Kalau itu baru bisa dikasih keputusannya besok, saya harus bilang dulu dengan Pak Ketua. Sekarang Pak Ketua lagi nggak ada di tempat." kata Susi panjang lebar.
"Ooh... Tapi kalo gue ajak jalan, keputusannya bisa sekarang kan?" pintaku sembari merayu.
"Hmmm.. Maaf tapi hari ini aku sudah ada janji."
"It's ok, tapi kapan dong kita bisa jalan?" Lagi-lagi aku merayu tanpa kenal lelah.
"Gimana kalo lusa? Aku lusa belom ada acara."
"Deal!" kataku menutup pembicaraan sembari pamit.
Dan akupun pulang dengan seribu senyum, berharap jarum jam dapat berputar 13x lebih cepat dari biasanya.
Malam sebelum pertemuan dengan Susi dan juga hari kemenanganku, aku tak bisa tidur memikirkan seperti apa nantinya muka Lalo apabila melihat Susi jalan denganku besok. Tiba-tiba Lalo, meneleponku dan menyuruhku keluar rumah segera.
"Cepet keluar sekarang, PENTING!" katanya sambil terbata-bata.
Dengan hanya menggunakan sarung dan singlet andalan akupun keluar dengan terburu-buru. Namun, apa yang aku lihat di luar, ternyata Lalo sedang berdiri di depan rumahku dengan merangkul Susi Similikitty dan tertawa sambil memegang kertas.
"DAMN!" kataku, tak ada latah yang lebih indah dari kata-kata itu.
Dengan lantang Lalo berkata, "Pegang kata-kata lo!"
Mengingatkanku pada janji taruhan sial itu. Dengan berat hati, aku pun mengambil kertas itu dan mengisinya sambil menggerutu...
Nama: Lodi
Alasan ikut Bunuh Diri Massal: kalah taruhan
Dan jadilah ini alasan bunuh diri terbodoh yang pernah ada.
Pesan moral: Never promise more than you can perform. It's always better to underpromise and overdeliver.
oleh Rizki Januarsaputra





